Mataram (Inside Lombok) – Pasar saham Indonesia menunjukkan kinerja yang menggembirakan meski menghadapi sentimen global yang bergejolak. Pada akhir Januari 2025, indeks harga saham gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,41 persen secara year-to-date atau month-to-date, mencapai level 7.109,20. Meskipun nilai kapitalisasi pasar sedikit turun 0,14 persen, pasar saham tetap menunjukkan daya tarik bagi investor.
Plt Kepala Departemen Literasi Keuangan dan Komunikasi OJK, M Ismail Riyadi, menyampaikan bahwa meski terjadi net sell oleh investor non-resident sebesar Rp3,71 triliun, beberapa sektor seperti consumer cyclicals dan financials mengalami penguatan yang signifikan. “Kinerja pasar saham yang positif ini mencerminkan ketahanan pasar modal Indonesia, meskipun ada tantangan eksternal,” ujarnya.
Di sisi likuiditas, rata-rata transaksi harian pasar saham pada Januari 2025 tercatat Rp10,71 triliun, sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp12,85 triliun. Sedangkan untuk, penghimpunan dana di pasar modal pada 2024 melampaui target, dengan total mencapai Rp259,24 triliun, didominasi sektor keuangan. Hingga 31 Januari 2025, tercatat nilai Penawaran Umum mencapai Rp1,10 triliun melalui dua Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB).
Kemudian, jumlah investor pasar modal saat ini terus meningkat. Pada akhir 2024 tercatat 14,87 juta investor, tumbuh enam kali lipat dalam lima tahun terakhir. Pada 31 Januari 2025, jumlah investor kembali mencatatkan kenaikan menjadi 15,16 juta. “OJK terus memantau perkembangan pasar modal dan memastikan bahwa sektor ini tetap dapat memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia,” terangnya.
Tak hanya itu, bursa karbon telah mencatatkan perkembangan yang signifikan hingga 31 Januari 2025. Dengan total 107 pengguna jasa yang mendapatkan izin, volume transaksi mencapai 1.181.255 ton CO2e (tCO2e), dan total nilai transaksi tercatat sebesar Rp62,93 miliar. Dari data yang tercatat, transaksi di pasar reguler mencapai 12,22 persen, pasar negosiasi 62,14 persen, pasar lelang 25,40 persen, dan sisanya 0,24 persen berada di marketplace.
Meskipun sudah menunjukkan kemajuan yang menggembirakan, potensi bursa karbon ke depan masih sangat besar. Hingga kini, terdapat lebih dari 4.000 pendaftar yang tercatat di Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN PPI).
“Dengan banyaknya pendaftar ini, potensi unit karbon yang bisa diperdagangkan sangat melimpah. Salah satu langkah penting diambil adalah dibukanya perdagangan karbon luar negeri sejak 20 Januari 2025. Ini merupakan langkah maju dalam memperluas cakupan dan dampak positifnya,” ujarnya.
Hingga 31 Januari 2025, volume transaksi luar negeri telah mencapai 49.815 tCO2e dengan total nilai transaksi mencapai Rp4,02 miliar. Ke depan, perdagangan internasional ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam pasar karbon global dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi pengurangan emisi karbon di tingkat dunia.
“Bursa Karbon bukan hanya sebagai alat perdagangan, tetapi juga sebagai salah satu strategi untuk mengurangi jejak karbon dan mendukung pembangunan berkelanjutan,” demikian. (dpi)

