27.5 C
Mataram
Sabtu, 20 April 2024
BerandaEkonomiSoal Harga Beras Tinggi, DPRD NTB Minta Tekan Pengiriman ke Luar Daerah

Soal Harga Beras Tinggi, DPRD NTB Minta Tekan Pengiriman ke Luar Daerah

Mataram (Inside Lombok) – Harga beras sekarang berada di posisi kisaran Rp16 – 17 ribu per kilogram (kg). Tingginya harga beras ini membuat masyarakat mengeluh, karena NTB diketahui sebagai daerah lumbung pangan nasional. Sayangnya harga beras belum bisa ditekan di dalam daerah meski kebutuhannya tinggi.

Anggota Komisi II Bidang Perekonomian DPRD NTB, Made Slamet mengatakan dalam hal ini pemerintah dan stakeholder terkait harus mengambil langkah penanggulangan. Pasalnya, tingginya harga beras beberapa kali terjadi di daerah lumbung pangan ini, yang mana seharusnya dapat teratasi.

“Karena kita lumbung pangan, beras ini kan barang bebas, tapi kita mengambil kebijakan dinas terkait. Termasuk satgas pangan semua ini harus bergerak mengambil kebijakan, jangan sampai keluar berasnya kita semuanya, nanti ini seperti tikus mati dalam lumbung sendiri,” ujar Made, Selasa (20/2).

Guna menjaga ketersediaan dan stabilisasi harga dalam daerah, pengiriman beras ke luar daerah menurutnya perlu lebih diatur. Selain itu, upaya menekankan keanekaragaman pangan harus ditingkatkan. “Kampus kita unram sudah menemukan beras dari umbi-umbian. Semestinya itu didorong, sudah temukan inovasi seperti itu. Ya didorong dong,” imbuhnya.

- Advertisement -

Menurutnya, saat ini tingginya harga beras saat ini dinilai merupakan buatan pemerintah agar membuka kembali impor beras. Mengingat Indonesia sebelumnya sudah pernah mengimpor beras untuk memenuhi kekurangan stok. “Kalau sudah impor urusannya fee atau cuan,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB Wahyudin mengatakan, pada Januari-Februari 2024 ini produksi gabah dan beras hanya sebagian kecil di wilayah tertentu di NTB, sehingga potensi produksinya tidak banyak. Padahal di Januari, Februari sampai Maret potensinya untuk menambah produksi. Namun melihat kondisi cuaca kemarau panjang membuat masa tanam mundur.

“Jadi Januari Februari memang kecil, dengan demikian produksi dengan pasti berkurang dari kebutuhan. Tetapi kami masih punya stok, stok produksi yang lama, yang dari kegiatan dari penanaman sebelumnya. Stok itu ada di mana? Ada di Bulog dan sebagian di pedagang-pedagang pengepul itu,” ujarnya. (dpi)

- Advertisement -

Berita Populer