Dikes Mataram Layanani Tes Cepat COVID-19 Gratis Bagi Pelajar

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi. (Foto: Inside Lombok/ANTARA News/Nirkomala)

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Kesehatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, melayani tes cepat (rapid test) COVID-19 secara gratis di 11 puskesmas bagi pelajar/santri dan mahasiswa asal Kota Mataram yang akan kembali menuntut ilmu ke sekolah atau perguruan tinggi mereka masing-masing di luar daerah

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi di Mataram, Senin mengatakan kegiatan tes cepat COVID-19 bagi pelajar/santri dan mahasiwa itu sudah dilaksanakan sebelum edaran Gubernur Nusa Tenggara Barat diterbitkan pada 23 Juni 2020.

“Rapid test COVID-19 gratis bagi pelajar/santri dan mahasiswa, sudah kita laksanakan sebelum ada edaran gubernur dan sampai saat ini sudah ada 50 orang pelajar yang memanfaatkan fasilitas tersebut,” katanya.

Menurutnya, dari 50 orang pelajar/santri dan mahasiswa yang sudah dirapid test tersebut, semua hasilnya nonreaktif sehingga mereka bisa langsung berangkat ke daerah tujuan pendidikan masing-masing.

“Kalau ada yang reaktif, kita akan tahan dan minta untuk sementara melakukan isolasi mandiri,” katanya.

Dikatakan, kegiatan rapid test gratis bagi pelajar/santri dan mahasiswa dilaksanakan pada 11 puskesmas se-Kota Mataram dan di Kantor Dinas Kesehatan Kota Mataram di Jalan Lingkar Selatan.

Dengan demikian, pelajar/santri dan mahasiswa bisa datang ke puskesmas terdekat dari tepat tinggal mereka.

Pelajar/santri dan mahasiswa yang ingin mendapatkan fasilitas tes cepat gratis, harus memenuhi persyaratan dengan menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP) yang menerangkan bahwa mereka warga asli Kota Mataram.

“Selain itu menunjukkan kartu pelajar/santri atau mahasiswa, yang menyatakan bahwa mereka memang benar belajar di luar daerah,” katanya.

Menyinggung tentang fasilitas dan SDM, Usman mengatakan, untuk kegiatan rapid test COVID-19, gratis bagi pelajar/santri dan mahasiswa fasilitas sudah cukup memadai.

“SDM dan alat kita masih cukup, bahkan kami masih memiliki sekitar 600 alat rapid test,” katanya. (Ant)