Lombok Timur (Inside Lombok) – Kejanggalan pembuangan bayi di toilet samping kloset Puskesmas Selong akhirnya terungkap lewat rekaman CCTV. Ternyata terduga pembuangan bayi perempuan tersebut merupakan seorang pelajar yang masih di bawa umur.
Sebelumnya, warga dihebohkan penemuan bayi perempuan di toilet puskesmas tersebut pada 1 Mei 2025 lalu. Setelah dilakukan pemeriksaan rekaman CCTV, baru diketahui terduga pelaku pembuangan bayi itu adalah S (16), seorang pelajar yang datang ke IGD dengan keluhan sakit perut dan tak biasa BAB selama empat hari.
S diduga membuang bayinya yang baru lahir di toilet Puskesmas Selong pada 30 April 2025. Ia diidentifikasi sebagai terduga pelaku setelah Bhabinkamtibmas berkoordinasi dengan Ketua RT setempat terkait bukti rekaman CCTV. “Dari pemeriksaan foto, keluarga mengakui bahwa terduga pelaku adalah putri dari Bapak Z (59 tahun),” ujarnya.
S pun mengaku bayi yang dibuangnya adalah hasil hubungan dengan A, pria asal Pengempok Kelayu Jorong yang dikenalnya sejak Maret 2024. Hubungan intim mereka terjadi pertama kali di Warung Labuhan Haji pada Agustus 2024, dan terus berlanjut setiap kali mereka bertemu.
S kemudian menyadari kehamilannya pada September 2024, dan memberitahu A atas apa yang dialaminya. Namun A kemudian memberinya dua tablet obat untuk menggugurkan kandungan. “Saat itu, ia mengira janin telah gugur karena mengalami pendarahan. Namun, di bulan puasa 2025, ia curiga masih hamil karena munculnya keinginan makan yang aneh-aneh,” jelas Nikolas.
Pembuangan bayi bermula pada 30 April 2025 lalu, S mengeluh sakit perut dan dibonceng orang tuanya ke Puskesmas Selong pukul 21.00 WITA dengan alasan sembelit. Di ruang periksa, ia tiba-tiba merasakan ada yang aneh keluar dari bagian vitalnya, lalu meminta orang tuanya mengantar bayinya ke toilet. “Bayi itu ditinggalkan di toilet dengan ditutup ember, tanpa pakaian. Pelaku sempat meminta gunting untuk memotong tali pusar,” papar Nikolas.
Kemudian S keluar dari toilet dalam keadaan biasa saja tanpa rasa bersalah. Kemudian kembali ke ruang periksa dan disuntik oleh perawat, S pulang seolah tak terjadi apa-apa. Saat ini S sedang dilakukan pemantauan kesehatan mental dan sedang menjalani pengobatan psikologis di RSI Namira sejak 3 bulan terakhir dan masih mengkonsumsi obat.
Dinas Sosial diharapkan turun tangan memberikan pendampingan terhadap remaja tersebut. “Diperlukan asesmen lebih mendalam terkait kondisi kejiwaan terduga pelaku. Keluarga diminta lebih memperhatikan aktivitasnya,” terangnya.
Polsek Selong telah memeriksa A terkait dugaan pelibatan dalam upaya aborsi ilegal. Sementara bayi yang dibuang saat ini dalam perawatan medis. “Kami mendorong pendekatan restorative justice mengingat usia pelaku yang masih di bawah umur dan kondisi psikologisnya,” tandas Nikolas. (den)

