Lombok Barat (Inside Lombok) – Para Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga pelaku usaha di Lombok Barat (Lobar) didorong untuk lebih peduli pada pelestarian budaya Sasak dengan mendukung, serta terlibat aktif dalam tiap even-even budaya.
Pengerakse Agung Majelis Adat Sasak (MAS), Lalu Sajim Sastrawan mengapresiasi Pemda Lobar yang bisa memberi intervensi langsung terhadap kegiatan-kegiatan budaya. Salah satunya even Keris Lombok Bewaran dan sarasehan di Taman Narmada, akhir pekan kemarin.
Pria berambut gondrong ini menuturkan bahwa selama ini, masyarakat tertatih-tatih untuk melaksanakan kegiatan semacam ini. “Atas dukungan Pemerintah tentu sangat luar biasa dan kami menyampaikan terima kasih,” ucap Miq Sajim, sapaan akrabnya.
Namun, dia menilai bahwa sampai saat ini, masih banyak elemen masyarakat yang belum berpartisipasi pada pembangunan dan pelestarian budaya Sasak. Seperti para pengusaha. Dia mengakui jika para budayawan sulit mendapatkan sponsor kegiatan semacam ini dari pelaku usaha yang ada.
“Mestinya mereka (pelaku usaha, Red) yang sudah mengabdikan dirinya untuk mencari keuntungan yang besar di NTB, khususnya di Lobar berpartisipasi lah. Ikut nimbrung bagaimana membangun budaya kita,” terangnya.
Selain itu, pihaknya juga mendorong agar para ASN di jajaran Pemda Lobar juga terlibat aktif. Sebab keris telah diakui Unesco sebagai bagian dari warisan khasanah kekayaan budaya dunia.
“Masak keris ini diakui UNESCO sebagai bagian warisan khazanah kekayaan budaya dunia, lalu kenapa sekarang ini pegawai Pemda (ASN, Red) Lobar batek bontong (parang) saja ndak punya. Apalagi keris,” sindirnya.
Sehingga menurutnya hal ini lah yang perlu diberikan semangat, supaya mereka juga mencintai dan tetap mengingat budayanya. Setidaknya, kata dia, dengan memiliki atau menggunakan keris, para ASN di Lobar bisa tetap mengingat sejarah. “Jangan kamu lepas dari sejarahmu,” pesannya.
Dia memaparkan bahwa peranan ASN dalam hal ini sebenarnya sederhana saja, jika dari 8.000 orang ASN di Pemda Lobar, mereka membeli keris yang harganya Rp500 ribu. Kemudian membeli perangkat budaya lainnya seperti Pemaje (pisau khas Sasak) serta capuk, dodot Sasak dan kain songket. Dia menilai, dampaknya tidak saja mereka berperan membangun dan melestarikan budaya. Tetapi juga bisa membantu menghidupkan perekonomian masyarakat, terutama kalangan pengrajin budaya Sasak yang ada di Lobar.
Sehingga dengan partisipasi aktif semua pihak, pelestarian budaya ini bukan menjadi persoalan Bupati atau Pemda semata. Melainkan persoalan semua elemen masyarakat, termasuk para pengusaha. Dan di dalamnya juga disebutnya termasuk insan pers.
“Mari kita duduk bersama-sama untuk menciptakan situasi yang membangunkan semangat kita agar mendatangkan turis yang sebanyak-banyaknya, dan ini akan membantu peredaran, perputaran uang di daerah kita. Sehingga otomatis kegiatan masyarakat tidak begitu sulit kita capai,” sarannya.
Miq Sajim berharap, setelah beberapa waktu ke depan pendampingan dilakukan oleh MAS, event Bisok Keris atau Memandikan Keris yang diadakan MAS saat ini bisa dilaksanakan oleh Pemda ke depannya. Pemda bisa membantu mempromosikan, bahwa pada tanggal 2 Syuro diadakan Bisok Keris. Kata dia, hal ini mirip sebagaimana Roro Jonggrang yang ada di Yogyakarta, di mana setiap tanggal 15 Purnama pengunjung dari berbagai dunia hadir menyaksikan.
“Itu lah yang kita ciptakan. Karena kebetulan bagian-bagian yang kita ritualkan ini punya waktu tersendiri. Keris itu tidak sembarang kita ritual, harus bulan Suro, bulan Muharram,” pungkasnya.
Kendati dia juga mengakui bahwa kegiatan budaya di Lobar bukan hanya Bisok Keris. Namun masih banyak yang lainnya, salah satu dalam waktu dekat ini di bulan Safar, akan ada juga ritual mandi Safar atau Rebo Bontong. Seperti ritual Aik Semel-mel yang selalu dilaksanakan oleh masyarakat di Narmada. “Ini belum dilirik, sekarang ini coba dikemas sebaiknya nanti agar Rebo Bontong atau Mandi Safar ini juga dilaksanakan di Narmada ini,” pesannya. (yud)

