Lombok Barat (Inside Lombok) – Banjir bandang menerjang sejumlah desa di Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, Selasa (13/01/2026), akibat curah hujan sedang hingga tinggi, menyebabkan 1.047 kepala keluarga atau 3.223 jiwa terdampak serta satu warga dilaporkan meninggal dunia. Banjir berlangsung sekitar tiga jam dan merendam pemukiman serta ruas jalan di wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Barat, dua desa terdampak paling parah yakni Desa Persiapan Pengantap dan Desa Persiapan Blongas. Di Desa Persiapan Pengantap, banjir berdampak pada Dusun Kebeng sebanyak 85 KK atau 330 jiwa, Dusun Bengkang 230 KK atau 659 jiwa, Dusun Sap Baru 150 KK atau 459 jiwa, serta Dusun Pengantap 100 KK atau 300 jiwa.
Sementara di Desa Persiapan Blongas, warga terdampak tersebar di Dusun Slodong sebanyak 100 KK atau 270 jiwa, Dusun Blongas 75 KK atau 300 jiwa, Dusun Kekalik 62 KK atau 187 jiwa, Dusun Sauh 150 KK atau 420 jiwa, Dusun Panggang 50 KK atau 175 jiwa, serta Dusun Tangin Angin 45 KK atau 123 jiwa. BPBD menyebut banjir dipicu meluapnya Kali Sekotong dan diperparah aliran air dari kawasan pegunungan dengan kondisi lahan gundul dan daya serap tanah rendah.
Korban meninggal dunia diketahui bernama Nurinah (69), warga Dusun Sauh, Desa Persiapan Blongas. Korban dilaporkan pergi sendiri menuju rumah anaknya yang berada di seberang sungai sekitar pukul 15.00 Wita dan ditemukan pihak keluarga dalam kondisi meninggal dunia pada pukul 19.30 Wita.
Pada Rabu (14/01/2026), banjir dilaporkan telah surut dan aktivitas masyarakat berangsur normal, meski distribusi logistik sempat terhambat akibat jalan licin dan lumpur sisa banjir. Saat meninjau lokasi, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini menegaskan pentingnya penanganan kawasan hulu.
“Persoalan di bagian hulu harus segera diselesaikan. Penataan ulang ekosistem melalui reboisasi adalah harga mati, agar alam tidak terus menghukum kita dengan bencana,” tegasnya. Wakil Bupati Lombok Barat Nurul Adha juga menyoroti persoalan drainase dan sampah, serta mendorong gotong royong dan alokasi anggaran untuk perbaikan sistem drainase ke depan.

