25.5 C
Mataram
Kamis, 5 Maret 2026
BerandaLombok BaratBupati Lombok Barat Kritik Pola Promosi Event Disparekrafpora yang Dinilai Mendadak

Bupati Lombok Barat Kritik Pola Promosi Event Disparekrafpora yang Dinilai Mendadak

Lombok Barat (Inside Lombok) – Bupati Lombok Barat, Lalu Ahmad Zaini (LAZ), memberikan teguran kepada Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) terkait pola promosi event yang dinilai masih kurang efektif dan cenderung dilakukan secara mendadak. Kritik tersebut disampaikan dalam acara ekspose event Lebaran Topat beberapa hari lalu, karena promosi dianggap tidak berdampak signifikan terhadap minat wisatawan, tingkat kunjungan, dan lama menginap di kawasan wisata Lombok Barat.

LAZ menilai promosi yang dilakukan masih menggunakan cara lama dan kerap dilakukan hanya beberapa hari sebelum acara berlangsung. Menurutnya, promosi event budaya berskala besar seharusnya dilakukan jauh hari, mengingat wisatawan domestik maupun mancanegara umumnya merencanakan perjalanan dalam jangka panjang.

“Kegagalan Dispar ini ada di promosinya. Harusnya promosi itu setahun sebelumnya, ini seminggu sebelumnya baru promosi, apa yang diharapkan?,” kritik LAZ.

Ia menyebut rentang waktu promosi yang terlalu singkat hanya akan membuang anggaran tanpa memberikan dampak pada angka kunjungan wisatawan. “Ini waktunya (promosi) pendek, berpromosi buat baliho itu cuma buang-buang uang saja. Ini yang saya tidak bisa terima,” ketusnya dengan nada kecewa.

Dalam sesi wawancara dengan sejumlah media, LAZ menegaskan setiap kegiatan pariwisata harus memiliki daya ungkit ekonomi bagi masyarakat, bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif. Ia mendorong optimalisasi media digital dan media sosial sebagai sarana promosi yang dinilai lebih efektif dibandingkan pemasangan baliho fisik, terutama di tengah perkembangan teknologi informasi.

“Saya tidak mau seluruh kegiatan itu sifatnya seremoni, tapi harus berdampak pada tingkat hunian dan aspek lainnya. Orang itu banyak yang mau tahu soal tradisinya, bukan seremoninya saja. Saya lihat setahun ini cuma kegiatan seremonial saja sehingga tidak ada peningkatan,” ungkapnya.

LAZ menekankan tolok ukur keberhasilan sebuah event harus berbasis data, mulai dari jumlah kunjungan wisatawan hingga lama tinggal (length of stay). Ia tidak ingin Lebaran Topat hanya menjadi agenda rutin tanpa perbedaan signifikan pada angka kunjungan dibandingkan hari biasa.

“Makanya kalau mau garap pariwisata ini serius caranya. Kalau anggaran cuma bisa dapat lima, ya optimalkan lima itu. Tidak perlu banyak-banyak. Kalau hanya seremoni saja, mending tidak usah,” tandasnya.

Pemkab Lombok Barat merencanakan perayaan Lebaran Topat 2026 akan digelar lebih luas dengan melibatkan kabupaten tetangga seperti Lombok Tengah, Lombok Timur, Kabupaten Lombok Utara, dan Sumbawa Barat.

- Advertisement -

Berita Populer