24.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaLombok BaratDiselimuti Stigma, Warung Suranadi Jadi Tempat Ratusan Keluarga Menggantungkan Hidup

Diselimuti Stigma, Warung Suranadi Jadi Tempat Ratusan Keluarga Menggantungkan Hidup

Mataram (Inside Lombok) – Keberadaan warung minuman tradisional jenis tuak di daerah pariwisata Suranadi, Kecamatan Narmada, belakangan disorot pihak tertentu. Terutama karena keberadaannya yang disebut mengundang tindak kejahatan.

Terlepas dari stigma itu, di balik layar warung-warung yang ada di Suranadi, nyatanya ada seribu lebih keluarga yang menggantung hidup pada keberadaan warung tersebut. Ketua Asosiasi Warung, I Gede Ngurah menyebut ada sekitar 170 keluarga yang berprofesi sebagai penjual keliling yang biaya hidupnya bergantung pada beroperasinya warung-warung di Suranadi.

Selain para penjual, ada juga puluhan tukang parkir, ratusan karyawan hingga ratusan petani pohon enau yang menjadikan warung-warung di Suranadi sebagai lahan penghidupan. “Banyak sekali keluarga yang bisa menghidupi keluarganya dengan keberadaan warung ini,” ujarnya.

Ayat warga Suranadi Utara misalnya mengaku sudah enam tahun berjualan keliling ke masing masing-masing warung di Suranadi. “Saya bisa menambah uang biaya kelima anak saya,” ujar perempuan berusia 52 tahun itu, seraya mengaku suaminya juga mencari nafkah dengan berjualan di warung-warung sekitar Suranadi juga.

Ayat menjual makanan ringan berikut buah buahan kepada para tamu pengunjung warung. Ia mengaku mulai berjualan pada jam satu siang hingga sekitar jam sebelas malam. “Habis ndak habis jualan, saya tetap pulang jam 11,” sebutnya.

Setiap harinya Ayat mengaku mendapat untung lumayan, sekitar Rp50-200 ribu per hari. “Jika beruntung saya bisa mendapat lebih. Tapi kalau lagi sepi, saya hanya bisa bayar ojek saja,” ungkapnya.

Selain Ayat, ada ratusan pedagang lain yang biaya makan hingga biaya sekolah anaknya bergantung pada keberadaan warung di sekitar Suranadi. Terkait hal itu, Ngurah pun menyebut keberadaan warung-warung di Suranadi telah turut menjadi roda ekonomi masyarakat sekitar. Karenanya, terkait stigma yang masih melekat pada mereka, diharapkan ada pembinaan positif dari stakeholder terkait agar tidak menghilangkan sumber penghidupan warga. (r)

- Advertisement -

Berita Populer