32.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaLombok BaratJadi Simbol Toleransi, Pemkab Lobar Ingin Tradisi Perang Topat Mendunia

Jadi Simbol Toleransi, Pemkab Lobar Ingin Tradisi Perang Topat Mendunia

Lombok Barat (Inside Lombok) – Bupati Lombok Barat (Lobar), Lalu Ahmad Zaini (LAZ) menargetkan perayaan Perang Topat tahun depan digelar lebih besar dan dihadiri tokoh nasional, termasuk Menteri Agama, pada acara yang berlangsung Kamis (04/12/2025) di Lobar.

Ia menegaskan, Perang Topat menjadi simbol toleransi antarumat beragama serta gambaran kerukunan masyarakat setempat yang terus terpelihara. LAZ menyatakan upaya ini dilakukan agar nilai persatuan dalam tradisi tersebut dapat dilihat dan dipahami lebih luas.

Perayaan Perang Topat digelar di kompleks Pura Lingsar, situs yang memadukan Pura Gaduh sebagai tempat ibadah umat Hindu dan Kemaliq sebagai tempat ibadah umat Muslim Sasak. Tradisi ini memperlihatkan partisipasi kedua umat secara turun-temurun dalam rangkaian ritual sakral. Puncak prosesi biasanya berlangsung pada sore hari bertepatan dengan bulan purnama ketujuh dalam penanggalan Sasak.

LAZ menyebut esensi Perang Topat terletak pada nilai persatuan, meski prosesi dilakukan dengan saling melempar ketupat.

“Bila perlu Kementerian Agama kita undang, hadir, menyaksikan bahwa toleransi itu seperti ini. MUI, pengurus-pengurus agama itu pada level pusat, supaya ini loh bentuk toleransi yang harus kita pelihara. Ini adalah tradisi yang harus kita pelihara, kita sebagai generasi penerus. Ini kan warisan leluhur kita,” jelasnya.

Rangkaian Perang Topat berlangsung hingga sepuluh hari dan mencakup sejumlah prosesi utama, seperti Roah Gubug yang berisi doa dan zikir dipimpin tokoh agama, serta Negelingan Kaoq atau penggiringan kerbau sebagai simbol penghormatan antara umat Islam dan Hindu. Puncaknya adalah Pujawali, yaitu sembahyang bersama umat Hindu di Pura Lingsar yang digelar bersamaan dengan hari Perang Topat dan diiringi kesenian tradisional Gendang Beleq.

Simbolisme ketupat yang dilempar dipercaya membawa berkah dan menyuburkan tanaman, selain menjadi pengingat bahwa perbedaan keyakinan dapat hidup berdampingan dalam harmoni.

Pengakuan terhadap tradisi ini juga datang dari tingkat nasional melalui masuknya Perang Topat dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) oleh Kemenparekraf. LAZ menilai pengakuan tersebut harus berdampak pada peningkatan ekonomi lokal melalui perputaran ekonomi rakyat dan kontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Kalau ke depan (tahun depan, Red) jauh hari sebelumnya sudah kita promosikan. Sehingga orang datang ke sini untuk ikut menyaksikan, terus menginap di sini tiga hari. Tiga hari berbelanja, kan akan membawa dampak kepada peningkatan PAD. Itu yang kita harapkan,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lobar juga berupaya menaikkan Perang Topat ke tingkat lebih luas sebagai ikon toleransi yang mendunia. Langkah ini ditujukan untuk memperoleh pengakuan internasional mengenai kerukunan antaragama sekaligus menempatkan warisan leluhur sebagai aset penting dalam pembangunan daerah.

- Advertisement -

Berita Populer