Lombok Barat (Inside Lombok) – Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menyatakan minimnya atraksi wisata dan keterbatasan akomodasi menjadi penyebab utama kapal pesiar tidak menjadwalkan menginap saat singgah di Lombok. Hal itu disampaikannya usai menyambut kedatangan tamu kapal pesiar Ovation of the Seas di Pelabuhan Gili Mas, Jumat (02/01/2025). Menurutnya, kondisi tersebut membuat sebagian besar kapal pesiar hanya singgah dalam waktu singkat.
Iqbal menjelaskan kapal pesiar yang datang ke Lombok umumnya hanya bersandar sekitar 12 jam, datang pada pagi hari dan kembali berlayar pada malam hari. “Memang kondisinya kapal-kapal pesiar yang datang ke Lombok itu, mereka tidak over night (menginap, Red),” ujarnya.
Ia menambahkan, “Karena memang, tidak banyak atraksi yang bisa mereka lihat. Kedua memang akomodasi, tentu untuk 4 ribu sekaligus (wisatawan) datang bersamaan di satu kawasan, memang susah bisa dapatnya.”
Menurut Iqbal, keterbatasan tersebut menjadi kendala utama sehingga kapal pesiar enggan menginap. “Itu salah satu persoalan yang mungkin perlu kita pikirkan bagaimana jalan keluarnya,” katanya. Ia menilai kehadiran kapal pesiar yang membawa ribuan wisatawan mancanegara seharusnya dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar jika mereka tinggal lebih lama. “Saya kira, itu isu-isu yang harus kita pikirkan bersama,” tegasnya.
Iqbal juga mengungkapkan pihaknya sempat melobi sejumlah operator kapal pesiar saat berkunjung ke Singapura. “Problem mereka itu, kurangnya atraksi dan kedua, akomodasinya memang tidak tersedia dalam jumlah 4 ribu yang datang dan harus nampung semua,” ungkapnya.
Selain itu, jarak Pelabuhan Gili Mas dengan sejumlah destinasi unggulan dinilai cukup jauh. “Apalagi kan destinasi dari Gili Mas ini kan agak jauh, paling dekat Sekotong. Trus ke Mandalika itu kan butuh waktu 1,5 jam, kemudian ke Mataram atau Senggigi, kalau pakai bus paling tidak 2 jam baru sampai,” bebernya.
Saat ditanya terkait promosi pariwisata, Iqbal tidak menampik bahwa kesiapan NTB dalam menerima wisatawan kapal pesiar masih terbatas dibanding wisatawan penerbangan. “Kalau promosi, untuk kedua segmen (kapal pasiar dan penerbangan) ini sudah dilakukan. Masalahnya kesiapan kita untuk menerima masing-masing segmen. Khusus kapal pesiar ini, memang kita tidak sesiap di segmen pesawat (penerbangan, Red),” pungkas Iqbal.

