Lombok Barat (Inside Lombok) – Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Ahmad Nur Aulia, mengakui masih lemahnya sinergi antara pemerintah kabupaten/kota dengan pemerintah provinsi dalam menyambut wisatawan kapal pesiar. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab belum optimalnya pemanfaatan potensi pariwisata saat kapal pesiar singgah di Lombok.
Aulia menanggapi sorotan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, terkait minimnya atraksi dan akomodasi yang membuat kapal pesiar enggan menginap. Menurutnya, Lombok sebenarnya memiliki kekayaan destinasi wisata serta atraksi seni dan budaya yang beragam, namun belum tergarap maksimal karena kurangnya koordinasi lintas pemerintah daerah.
“Jadi semua destinasi, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten/Kota tentunya kita butuh sinergi, harmonisasi. Bagaimana membuat paket-paket kegiatan,” ujar Aulia saat ditemui di Pelabuhan Gili Mas, Jumat (02/01/2025). Ia menjelaskan, melalui sinergi tersebut, potensi atraksi dan destinasi dapat dipetakan dengan baik untuk ditawarkan kepada wisatawan kapal pesiar.
Dengan perencanaan yang terintegrasi, Aulia berharap wisatawan kapal pesiar memperoleh pengalaman yang berkesan. “Supaya mereka (tamu kapal pesiar, Red) pada saat turun ke bawah (dari kapal), dapat sesuatu yang otentik dan mendapatkan kesan yang baik,” terangnya.
Saat ditanya faktor utama yang masih kurang dalam promosi dan kesiapan atraksi, Aulia menegaskan persoalannya terletak pada koordinasi. “(Yang kurang) orkestrasi dan sinergi,” singkatnya. Ia juga menyebut wilayah Sekotong sebagai kawasan terdekat dari Pelabuhan Gili Mas yang perlu dimaksimalkan potensinya.
Aulia menyampaikan pihaknya telah berkoordinasi dengan pemangku kepentingan di Sekotong. “Ini sudah kita koordinasikan dengan teman-teman yang di Sekotong. Mereka sudah mulai menangkap peluang atau kesempatan yang bisa diraih,” katanya. Meski demikian, ia mengakui pengembangan kawasan wisata Sekotong masih menjadi pekerjaan rumah. “Ini jadi PR (pekerjaan rumah) kita, nanti kita bedah,” tutupnya.

