Lombok Barat (Inside Lombok) – Ketua Asosiasi Hiburan Senggigi, Suhermanto mengakui kondisi usaha hiburan di wilayah pariwisata unggulan Lobar itu tengah memprihatinkan. Akibatnya, banyak tempat hiburan yang lebih memilih tutup, terlebih selama Ramadan ini.
“Betul, sebagian memilih tutup selama Ramadan karena keadaannya sangat sepi, ditambah ekonomi masyarakat juga sulit,” ungkap Suhermanto saat dikonfirmasi, Selasa (18/03/2025). Menurutnya, selama ini pengunjung tempat hiburan yang datang rata-rata dari kalangan wirausaha dan turis. Sehingga penutupan ini diperkirakan akan berlanjut hingga keadaan stabil.
Di sisi lain, pengurangan karyawan dan jam operasional demi efisiensi anggaran di masing-masing tempat hiburan makin tak terhindarkan. “Terlihat dari jumlah tamu serta hunian hotel yang dibawah rata-rata. Ke depannya juga masih kita akan rasakan, apalagi khusus dunia hiburan,” jelasnya.
Keadaan saat ini disebutnya sangat jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, kondisi ini diakuinya turut dipengaruhi juga oleh keadaan politik. Suhermanto menilai, secara tidak langsung, kebijakan pemerintah terkait efisiensi anggaran ini juga akan berdampak terhadap kelangsungan pariwisata dan ekonomi masyarakat.
“Dengan diberlakukannya efisiensi anggaran di seluruh daerah menambah berat pertumbuhan ekonomi. Masalahnya pengangguran akan meningkat. PHK juga dilakukan oleh sebagian usaha,” bebernya. Bahkan saat ini, kata dia, dari 27 tempat hiburan yang terdata di Senggigi, yang masih eksis kurang lebih hanya 16 saja.
Selain itu, kondisi para pengusaha hiburan yang memiliki ijin tempat yang legal ini juga kian diperparah oleh kehadiran kafe-kafe ilegal yang kini kian menjamur di Lobar, termasuk di wilayah Kecamatan Batulayar. “Kafe-kafe ilegal ini juga yang menjadi masalah. Mereka tidak bayar pajak, tidak ada ijin, namun terlindungi dan tidak pernah ditindak,” pungkasnya heran. (yud)

