Lombok Barat (Inside Lombok) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat (Loobar) memetakan sejumlah faktor penyebab kawasan Sekotong kerap dilanda banjir saat musim hujan, menyusul banjir yang kembali melanda wilayah tersebut. Salah satu titik terdampak paling parah berada di Dusun Bengkang, Desa Persiapan Pengantap, dengan sedikitnya 230 kepala keluarga terdampak dan kerusakan fisik pada rumah warga serta fasilitas publik.
Di Dusun Bengkang, kerusakan meliputi satu unit rumah roboh total, empat tembok pagar rumah warga rusak, serta jebolnya tembok penyangga fasilitas umum seperti sekolah dasar dan polindes. Kepala Dusun Bengkang, Zohdi Akbar, menyebut derasnya arus air juga mengakibatkan kerugian pada sektor ekonomi warga, terutama ternak. “Banyak kandang ternak yang hanyut. Bahkan sapi-sapi warga sempat terseret arus hingga sejauh 300 meter,” tutur Zohdi, Rabu (14/01/2026).
Zohdi menambahkan, pascabanjir warga sangat membutuhkan bantuan air bersih, sembako, selimut, serta kebutuhan balita. Hampir seluruh peralatan rumah tangga warga terendam lumpur akibat banjir yang melanda pemukiman mereka.
Meninjau langsung lokasi terdampak, Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, menginstruksikan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk segera melakukan penanganan teknis. Ia menilai pendangkalan sungai akibat sedimentasi menjadi faktor utama meluapnya air ke permukiman.
“Saya sudah memanggil pihak BWS untuk menurunkan ekskavator guna mengeruk sedimentasi sungai yang sudah sangat dangkal. Sedimen ini nantinya jangan dibuang sembarangan, melainkan dimasukkan ke dalam karung-karung untuk dijadikan tanggul sementara di sepanjang aliran drainase,” pinta Iqbal. Ia juga meminta kepala desa memperketat perizinan pembangunan di kawasan sensitif tanpa kajian lingkungan.
Bupati Lobar, Lalu Ahmad Zaini, menegaskan penanganan banjir tidak akan efektif jika hanya difokuskan di wilayah hilir. Menurutnya, penggundulan bukit di Sekotong telah menghilangkan daerah resapan air.
“Persoalan di bagian hulu harus segera diselesaikan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan peninggian tanggul jika bukit-bukit kita sudah gundul. Penataan ulang ekosistem melalui reboisasi adalah harga mati agar alam tidak terus menghukum kita dengan bencana,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Lobar, Nurul Adha, menyoroti persoalan sampah yang menyumbat drainase dan meminta aparat desa menggerakkan gotong royong warga. Anggota DPRD NTB Lalu Irwansyah Triadi yang turun langsung ke Dusun Bengkang, Tebeng, dan Sap Baru menyatakan penyaluran bantuan darurat terus dilakukan.
“Kami menyalurkan paket sembako, air minum, hingga nasi bungkus untuk warga yang belum sempat memasak karena kondisi dapur yang rusak. Kami di legislatif akan terus mendampingi dan memastikan koordinasi berjalan selaras dalam masa tanggap darurat ini,” pungkasnya.

