Lombok Barat (Inside Lombok) – Dampak dari menumpuknya sampah di banyak titik di Lombok Barat (Lobar) sudah mulai dirasakan, tidak hanya oleh para pedagang pasar, tetapi juga masyarakat luas. Tumpukan sampah di beberapa pasar, seperti Kediri, Gerung, Gunungsari hingga Narmada menjadi keluhan. Bahkan, beberapa warung makan pun terpaksa tutup akibat aroma busuk sampah yang menyebabkan sepinya pembeli.
“Sudah berhari-hari (sampah) dibiarkan menumpuk di sini (Pasar Narmada) tidak ada yang angkut. Rumah makan di sekitar lokasi sampah ini tutup. Tidak ada yang mau datang belanja ke toko kami,” keluh Budiman, salah seorang pedagang di Pasar Narmada.
Kata dia, sampah di Pasar Narmada itu sudah beberapa hari terakhir tidak diangkut hingga meluber nyaris menutupi jalan. Warga yang protes pun diakuinya sampai menggelar aksi unjuk rasa di kantor desa hingga kantor camat. Namun sampai saat ini belum ada tindak lanjut sesuai dengan harapan mereka. “Alasannya karena tupoksi pengangkutan sampah bukan menjadi kewenangan mereka,” bebernya.
Kondisi serupa tidak hanya kali ini saja terjadi di sana. Namun hampir setiap bulannya mereka menyuarakan keresahan soal tumpukan sampah yang makin tak terkendali itu. Sedangkan DLH Lobar dinilai tak kunjung menindaklanjuti apa yang menjadi keluhan masyarakat. “Sudah habis cara, sudah kita protes tetapi tidak ada yang peduli,” sesalnya.
Akibat tumpukan sampah ini, toko pakaian milik Budiman pun dipenuhi lalat. Sehingga tidak ada pengunjung yang mau datang ke tokonya karena lokasinya persis di depan tumpukan sampah. Hal serupa juga dikeluhkan oleh Hartono, yang mengaku sangat merasa terganggu akibat tumpukan sampah yang ada di depan rumahnya. “Bayangkan setiap hari kami tidur dengan aroma busuk sampah ini. Tidak pernah diangkut dan dibiarkan berhari-hari seperti ini,” ketus Hartono.
Dikonfirmasi terpisah, Camat Narmada, Sumasno mengaku pihaknya juga menjadi bulan-bulanan masyarakat akibat kondisi sampah tersebut. Lantaran tak hanya di Pasar Narmada, kondisi sampah yang menumpuk juga terjadi di Pasar Keru. Sehingga ramai warga yang menuntut ke Pemerintah Kecamatan untuk segera menyelesaikan persoalan ini. “Kami sudah koordinasi dengan DLH Lobar dan Disperindag terkait persoalan ini. Ya beginilah kondisinya sampai sekarang,” ujarnya.
Dia menyesalkan beberapa kali mendapat jawaban yang kurang menyenangkan dalam penanganan persoalan sampah. Pengangkutan sampah di Narmada disebutnya kerap tak bisa dilakukan karena alasan kurangnya armada pengangkut sampah dan banyak yang kondisinya sudah tua, bahkan hingga sopirnya sakit. Sehingga dia menilai bawah ini hanyalah alasan klasik.
Sumasno pun mengusulkan jika penanganan sampah baiknya dikembalikan ke kecamatan agar bisa lebih cepat dan responsif. Baik dari sisi armada, fasilitas dan penganggaran untuk penanganannya. Supaya setiap ada keluhan masyarakat yang diterima pemerintah kecamatan, itu bisa ditindaklanjuti dengan cepat.
“Coba berikan kami mengurus persoalan sampah dilengkapi dengan armada, akomodasi dan biaya operasionalnya. Kami punya pelayanan umum yang ini memang menjadi tupoksinya,” pungkas dia.
Sementara itu, Wakil Bupati Lobar, Nurul Adha yang dikonfirmasi terkait persoalan sampah ini mengatakan jika dirinya sudah meminta Plt Kadis DLH untuk menindaklanjuti. Namun dia mendapati jawaban kondisi persoalan tumpukan sampah di sejumlah titik ini terjadi akibat pembatasan pembuangan sampah di TPA Kebon Kongok.
“Ini dampak dari tutupnya TPA Kebon Kongok. Saya sudah memberi arahan kepada PLT Kadis LH untuk menambah rate armada yang mengangkut ke lokasi sementara yang sudah disepakati bersama Provinsi,” tandas perempuan yang akrab disapa Ummi Nurul ini. (yud)

