31.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaLombok TengahPemkab Loteng Dorong Penguatan Pariwisata Berkelanjutan

Pemkab Loteng Dorong Penguatan Pariwisata Berkelanjutan

Lombok Tengah (Inside Lombok) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah (Loteng) melalui Badan Perencanaan Pembangunan dan Riset Inovasi Daerah (Bapperida) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Universitas Islam Al-Azhar (Unizar) Mataram untuk memperkuat arah pembangunan pariwisata berkelanjutan di daerah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pariwisata tidak hanya berorientasi pada ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan sosial.

Kepala Bapperida Loteng, Lalu Wiranata, menegaskan pentingnya pemahaman pelaku industri wisata terhadap konsep keberlanjutan agar sektor pariwisata dapat bertahan jangka panjang tanpa merusak alam dan budaya lokal. “Pariwisata harus bisa berjalan tanpa mengorbankan kelestarian alam dan sosial budaya. Setiap daerah perlu menemukan keunikan dan diferensiasinya,” ujarnya, Rabu (12/11).

Ia mencontohkan, di sejumlah negara, lokasi yang tidak lazim seperti bekas pabrik bahkan dapat dijadikan destinasi wisata karena nilai keunikannya. “Lombok juga memiliki potensi khas mulai dari desa wisata, Rinjani, hingga kekayaan budaya yang perlu dikembangkan secara berkelanjutan,” imbuhnya.

Sekretaris Daerah Loteng, Lalu Firman Wijaya, menambahkan bahwa pariwisata berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan promosi, tetapi juga tata kelola dan penegakan aturan. “Tantangan pariwisata ini adalah memastikan praktik pariwisata di Loteng berjalan sesuai aturan. Keberlanjutan harus menjadi komitmen bersama,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Loteng, Lalu Pathul Bahri, menyoroti keberadaan tambang emas ilegal di Desa Prabu yang berdekatan dengan kawasan wisata Mandalika. Ia menekankan bahwa wilayah Lombok Tengah merupakan kawasan pariwisata sehingga aktivitas tambang tidak boleh berdampingan secara langsung dengan kawasan wisata. “Ada teknologi yang ramah lingkungan. Pariwisata boleh berdampingan dengan tambang kalau menggunakan teknologi,” ujarnya.

Pathul menuturkan, pemerintah provinsi kemungkinan tengah melakukan penertiban dengan memasang plang di lokasi tambang. “Saya harap kita saling mengerti dengan kondisi ini. Karena tidak boleh merusak lingkungan. Makanya pemerintah melakukan hal itu, maka sosialisasi juga penting dilakukan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kegiatan tambang dan pariwisata hanya dapat berjalan berdampingan jika ramah lingkungan. “Selama itu bisa ramah lingkungan kenapa tidak, biar masyarakat bisa mencicipi dan merasakan dari hasil tambang tersebut, karena potensi ada,” ujarnya.

Namun ia menekankan, Loteng telah menjadi daerah pariwisata yang berkembang, sehingga pertimbangan dampak terhadap sektor wisata harus menjadi prioritas. “Kalau soal lahan itu ada milik warga, ada juga milik pemerintah, makanya dipasangkan plang itu. Kalau tambang mengganggu pariwisata kita, tentu kita juga merugi,” tegas Pathul.

- Advertisement -

Berita Populer