Lombok Timur (Inside Lombok) — Nur Paridah Hidayah (39), perempuan penyandang disabilitas asal Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur (Lotim), bekerja sebagai pencuci ompreng di Dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan menjadi tulang punggung keluarganya. Meski beraktivitas dengan bantuan alat penyangga kaki, ia tetap menjalankan tugasnya setiap hari dalam operasional dapur yang melayani ratusan anak sekolah.
Sebelumnya, Nur Paridah berjualan sate keliling, namun keterbatasan fisik membuatnya tidak dapat bekerja secara rutin. Program MBG yang menerapkan prinsip inklusivitas memberinya kesempatan untuk kembali bekerja sesuai kemampuannya.
“Awalnya saya ragu, tapi di sini setiap orang diberi peran sesuai kemampuannya,” ujar Nur Paridah, Selasa (11/2/2026).
Ia menyebut lingkungan kerja di Dapur MBG mendukung dan tidak ada perlakuan berbeda terhadap dirinya. Fasilitas dapur juga dirancang lebih ramah bagi pekerja disabilitas sehingga memudahkan aktivitas sehari-hari. “Saya bersyukur bisa bekerja di sini. Pekerjaan ini sangat membantu membiayai anak saya,” katanya.
Koordinator Dapur MBG menyatakan pekerja disabilitas memiliki ketelitian dan fokus dalam menjaga kualitas makanan. Ketua Dewan Pembina Himpunan Mitra Dapur (DPHMD) Generasi Emas (Gemas), Daeng Palori, menilai keberadaan pekerja disabilitas menunjukkan komitmen pemberdayaan dalam program tersebut.
“Dapur MBG adalah ruang tumbuh bagi martabat dan kemandirian. Jangan ada diskriminasi dalam perekrutan tenaga kerja,” tegasnya.

