Lombok Timur (Inside Lombok) — Tiga ruang kelas SMPN Satap Montong Gading yang ambruk sejak awal tahun 2023 hingga kini belum juga diperbaiki. Hampir dua tahun berlalu, bangunan sekolah tersebut dibiarkan terbengkalai dan ditumbuhi semak, sementara aktivitas belajar harus berpindah ke ruang lain.
Kepala SMPN Satap Montong Gading, Roni Musdiwantoro, mengatakan kondisi bangunan sudah rusak parah sejak lama akibat usia dan dampak gempa bumi tahun 2018. “Kalau waktu ambruknya itu awal tahun 2023, tapi sebenarnya kondisi ruangan sudah parah jauh sebelumnya. Karena tidak ada pilihan, kami tetap gunakan untuk belajar,” ujarnya.
Kerusakan semakin parah pada Februari 2023 saat hujan deras dan angin kencang melanda wilayah Montong Gading selama tiga hari berturut-turut. Dua dari tiga ruang kelas tidak mampu menahan beban dan akhirnya roboh. “Kondisi bangunan memang sudah termakan usia. Ketika cuaca ekstrem datang, bangunan itu akhirnya tidak kuat lagi menahan beban dan roboh,” kata Roni.
Setelah kejadian, perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD, dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Timur meninjau lokasi. Saat itu, pihak BNPB menjanjikan akan segera memperbaiki bangunan sekolah, namun hingga kini janji tersebut belum terealisasi. Roni menyebut pihak sekolah beberapa kali berkoordinasi dengan BPBD, tetapi belum ada kepastian.
“Terakhir kami dijanjikan akan diperbaiki oleh BPBD pada akhir tahun 2025. Tapi saya juga sempat ditelepon oleh Ditjen SMP menanyakan apakah sekolah ini jadi ditangani BPBD atau tidak. Kalau tidak, mereka siap ambil alih,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tiga ruang kelas yang ambruk sangat dibutuhkan karena jumlah siswa terus bertambah setiap tahun, sementara ruang belajar terbatas. Kondisi ini membuat kegiatan belajar mengajar menjadi kurang ideal. “Kami berharap segera ada kepastian. Anak-anak butuh ruang belajar yang layak. Kalau BPBD tidak jadi menangani, kami siap menyerahkannya ke Ditjen SMP, karena mereka sudah menyatakan siap untuk membangun,” pungkas Roni.

