27.5 C
Mataram
Sabtu, 20 Juli 2024
BerandaLombok TimurJelang Iduladha Warga Mulai Serbu Daun Aren

Jelang Iduladha Warga Mulai Serbu Daun Aren

Lombok Timur (Inside Lombok) – Sebagian besar warga di NTB khususnya di Lombok Timur merayakan perayaan hari raya Iduladha sama dengan Idulfitri. Bahkan sajian ketupat atau bulayak tak terlepas dari makanan khas yang harus ada pada setiap momen hari raya, sehingga daun pohon aren yang menjadi salah satu bahan baku pembuatan bulayak mulai diserbu masyarakat di Lombok Timur.

Bulayak sendiri merupakan makanan khas Lombok yang serupa dengan ketupat, hanya saja perbedaanya terletak pada daun pembungkus yang digunakan sebagai bahan baku dan juga bentuknya. Jika ketupat menggunakan daun kelapa dengan bentuk yang dominan segi empat, sementara bulayak menggunakan bahan baku daun aren dengan bentuk bulat memanjang.

Bulayak sendiri menjadi salah satu makanan yang harus selalu ada pada setiap momen hari raya di beberapa daerah. Seperti halnya di Desa Aikdewa dan desa lainnya di Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur.

Mendekati pelaksanaan Idulfitri, masyarakat mulai berburu daun aren untuk persiapan pembuatan bulayak. Bahkan ada yang rela menunggu para pedagang di pinggir jalan sejak pagi buta agar tidak kehabisan oleh warga lainnya. “Sulit dapat daun aren karena tidak ada yang menjual di pasar, biasanya kita tunggu pedagang pinggir jalan untuk bisa dapat daun aren,” ucap Fitriani, Jumat (14/06/2024).

- Advertisement -

Terlebih jika sudah mendekati pelaksanaan hari raya daun aren sangat sulit didapatkan, disamping harganya juga yang semakin mahak membuat masyarakat harus berburu daun aren jauh-jauh hari jika ingin mendapatkan harga yang murah.

“Tapi kalau kita beli jauh-jauh hari juga kita tidak berani, soalnya daun mudah layu dan susah untuk dibuat menjadi kerangka bulayak,” ungkap Misah, warga lainnya.

Sementara itu pedagang daun aren, Araf mengaku bahwa daun aren aren sangat sulit untuk didapatkan dan harus mencari ke wilayah yang masih banyak ditumbuhi pepohonan aren, biasanya ia cari ke wilayah utara Lombok Timur tepatnya di bawah kaki gunung Rinjani.

“Sulit kita dapatkan, memang harganya tidak terlalu mahal, tapi kita juga harus bayar orang untuk mengambil daunnya yang masih di atas pohon. Biasanya kita bayar ongkos naiknya per pohon,” jelasnya.

Untuk harga daun aren yang ditawarkan kepada warga yakni seharga Rp10 ribu per satu ikat. Di mana dalam satu ikatnya diisi dengan 15 lembar daun aren yang nantinya dapat dijadikan kerangka bulayak sebanyak 30 biji. “Kita seharga Rp10 ribu satu ikatnya, kadang kita bawa sampai 200 ikat seharinya. Tapi di pagi hari saja sudah hampir habis di beli,” pungkasnya. (den)

- Advertisement -

Berita Populer