Lombok Timur (Inside Lombok) – Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Timur (Lotim), Syaiful Wathon, meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak anti kritik terkait menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan kritik dari guru maupun wali murid harus dijadikan bahan evaluasi untuk perbaikan layanan.
Menurutnya, diperlukan koordinasi yang baik antara pihak sekolah dan dapur penyedia makanan agar setiap persoalan dapat dikomunikasikan secara terbuka. “Kita berharap juga kepada pihak dapur agar bisa mengevaluasi diri, jangan ketika sudah viral baru berjanji akan evaluasi. Padahal itu demi kebaikan bersama, sekolah juga tentunya khawatir jika terjadi sesuatu, karena berdampak juga terhadap siswanya,” katanya.
Wathon menegaskan pihak sekolah berhak menyampaikan kritik secara santun, mengingat sekolah yang akan bertanggung jawab apabila terjadi dampak terhadap siswa, seperti keracunan makanan.
“Saya rasa memposting menu oleh pihak sekolah tidak apa-apa selama disampaikan dengan baik dan bahasa yang santun. Karena ini program prioritas nasional yang harus kita dukung, cuma kan ada saja dapur-dapur ini yang terkesan tak mau evaluasi,” paparnya.
Ia juga mengakui terdapat SPPG yang telah memberikan pelayanan baik kepada penerima manfaat. Menurutnya, distribusi yang berjalan optimal bahkan dinantikan oleh siswa jika kualitas layanan terjaga. “Kadang kita juga para penerima manfaat terbawa cerita dari luar terkait satuan harga. Padahal memang ada beberapa item yang harganya berbeda-beda didapatkan oleh pihak dapur,” pungkasnya.
Dikbud Lotim berharap seluruh pihak mendukung program MBG dengan tetap mengedepankan evaluasi dan komunikasi yang konstruktif demi menjamin kualitas dan keamanan makanan bagi siswa.

