Lombok Timur (Inside Lombok) – Abdul Gani Murad, warga Dusun Pernek, Desa Apitaik, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), tetap berjualan ikan hias keliling meski kedua kakinya tidak lagi berfungsi normal akibat kecelakaan tiga tahun lalu. Setiap hari, ia berkeliling menggunakan motor pinjaman untuk menafkahi istri dan empat anaknya.
Kecelakaan yang dialaminya terjadi ketika Abdul Gani sedang berjualan gulali di pinggir jalan dan ditabrak pengendara yang melaju kencang. Akibat insiden itu, kedua tulang kakinya patah parah dan meski telah beberapa kali menjalani operasi serta pemasangan besi, kondisinya tak banyak membaik. “Kalau bergerak terlalu banyak, sakit sekali rasanya,” ujarnya, Senin (20/10).
Kini Abdul Gani berjualan ikan cupang dan berbagai jenis ikan hias lain di sejumlah titik, termasuk area parkiran Puskesmas Pringgabaya. Ia membawa 50–60 ekor ikan setiap hari yang diperoleh dari pemasok, dengan keuntungan seribu hingga dua ribu rupiah per ekor. “Kadang cuma cukup buat bensin, makan, dan beli beras. Sisanya untuk kebutuhan anak-anak,” katanya.
Namun, hasil penjualan tak selalu stabil. Cuaca panas sering menyebabkan ikan-ikan miliknya mati sebelum laku terjual. “Kalau begitu, saya pulang tanpa uang sepeser pun. Sedih rasanya, apalagi kalau anak minta uang sekolah tapi saya nggak punya,” tutur Murad. Meski demikian, ia tetap berusaha bertahan dan menolak bergantung pada belas kasihan orang lain. “Lebih baik bekerja walau hasilnya kecil daripada mengemis,” ujarnya.
Motor dan box tempat menaruh ikan yang digunakannya dibuat secara sukarela oleh keluarganya. Ia juga kerap menerima bantuan makanan dari tetangga, namun enggan meminta. Di tengah keterbatasannya, Murad berupaya menjaga semangat dan harga diri. “Sebagai orang tua, saya tetap punya tanggung jawab,” ucapnya.
Kisah Abdul Gani Murad menjadi cerminan keteguhan seorang penyandang disabilitas yang berjuang mempertahankan hidup dan tanggung jawab keluarga meski menghadapi keterbatasan fisik dan ekonomi.

