Lombok Timur (Inside Lombok) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Timur (Lotim) menegaskan bahwa penentuan penerima bantuan sosial sembako dilakukan berdasarkan klasifikasi desil yang diusulkan oleh pemerintah desa. Sistem tersebut menjadi dasar penyaluran bantuan agar tepat sasaran kepada masyarakat yang membutuhkan.
Bupati Lotim, Haerul Warisin, mengatakan data penerima bantuan berasal dari usulan kepala desa yang kemudian melalui proses verifikasi sebelum bantuan disalurkan. Penyaluran bantuan tersebut difokuskan kepada warga dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.
“Penentuan desil itu diusulkan oleh kepala desa, sehingga sasaran bantuan kita sudah jelas karena data penerimanya sudah tersedia,” ujar Warisin yang akrab disapa Iron, Rabu (11/3/2026).
Ia menjelaskan bantuan sembako yang disalurkan menjelang Hari Raya Idulfitri tahun ini diprioritaskan bagi masyarakat yang berada pada kelompok desil satu dan dua. Kelompok tersebut dinilai sebagai warga dengan tingkat kesejahteraan paling rendah sehingga menjadi prioritas penerima bantuan.
“Yang menerima bantuan ini adalah masyarakat pada desil satu, dua dan seterusnya, sampai masyarakat yang memang dinilai layak mendapatkan sembako,” jelasnya.
Pemkab Lotim mengalokasikan anggaran sekitar Rp30 miliar untuk program bantuan sembako tahun ini dengan total sasaran sebanyak 198.776 paket bagi masyarakat di berbagai wilayah.
“Untuk tahun ini anggarannya Rp30 miliar. Mudah-mudahan tahun depan tidak turun dan bisa tetap bertahan, karena kita ingin membantu masyarakat miskin,” katanya.
Menanggapi kritik yang menyebut bantuan dapat menimbulkan ketergantungan masyarakat, Warisin menilai hal tersebut sebagai bagian dari perbedaan pandangan. Ia menegaskan bantuan diberikan pada momentum tertentu untuk membantu masyarakat menjalankan ibadah selama Ramadhan.
“Boleh saja orang berpendapat seperti itu. Tapi bantuan ini ada momennya, apalagi sekarang bulan puasa, tentu wajar jika pemerintah membantu masyarakat yang sedang menjalankan ibadah,” pungkasnya.

