25.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaLombok TimurProgram MBG bagi Bumil, Batuta, dan Busui Segera Dimulai di Selong

Program MBG bagi Bumil, Batuta, dan Busui Segera Dimulai di Selong

Lombok Timur (Inside Lombok) – Upaya Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) dalam memberantas stunting terus berlanjut dengan peluncuran Program Pemberian Makanan Bergizi (MBG) yang kini resmi digelar di wilayah Kecamatan Selong, tepatnya di Desa Lendang Bedurik. Program ini difokuskan untuk menjangkau kelompok rentan, yakni ibu hamil (bumil), balita usia dua tahun (batuta), serta ibu nifas dan menyusui (bunipas).

Sebelumnya, program ini telah dilaksanakan di Kecamatan Aikmel sebagai lokasi percontohan. Selong kini menjadi titik berikutnya dari ekspansi program MBG yang menjadi prioritas dalam intervensi penanganan gizi buruk. Melalui program ini, pemerintah daerah ingin memastikan bahwa kelompok kunci dalam tumbuh kembang anak mendapatkan asupan gizi yang cukup dan tepat.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lotim, Ahmat menyampaikan bahwa sekitar 300 penerima manfaat akan mendapatkan paket makanan bergizi setiap hari dari dapur penyaluran yang telah disiapkan. Menu yang diberikan berupa nasi, lauk berbasis protein hewani, serta buah-buahan. Untuk anak usia Batuta, menu disesuaikan agar lebih mudah dikonsumsi. “Misalnya, daging diganti dengan nugget ayam sebagai sumber protein yang lebih ramah untuk anak kecil,” ungkapnya pada Selasa (10/6).

Lebih lanjut, Ahmat menekankan bahwa MBG bukan sekadar bantuan makanan, melainkan bagian dari strategi besar pemerintah dalam menekan angka stunting melalui pendekatan gizi sensitif. Dampak stunting yang meluas—baik pada pertumbuhan fisik maupun kecerdasan anak membuat program seperti ini penting untuk dilaksanakan secara masif dan konsisten.

Pelaksanaan program MBG disesuaikan dengan kondisi masing-masing desa. Beberapa wilayah membagikan langsung ke rumah warga, sementara lainnya mengandalkan posyandu atau dapur sehat sebagai pusat distribusi. “Fleksibilitas ini penting agar pelaksanaan program lebih efektif dan sesuai dengan karakteristik lokal,” ujarnya.

Ia berharap Selong bisa menjadi contoh sukses dalam pelaksanaan MBG, dengan sinergi kuat antara pemerintah, petugas lapangan, dan masyarakat. Keterlibatan aktif tokoh masyarakat, kader posyandu, serta keluarga penerima manfaat sangat diperlukan untuk mensukseskan upaya pengurangan stunting di Lotim. “Ini bukan hanya tentang makanan, tetapi bagaimana kita membangun fondasi kesehatan dan masa depan anak-anak sejak dini,” tutupnya. (den)

- Advertisement -

Berita Populer