32.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaLombok TimurTambang Galian C di Korleko Dikeluhkan Petani, Lahan Perkebunan Terancam Amblas

Tambang Galian C di Korleko Dikeluhkan Petani, Lahan Perkebunan Terancam Amblas

Lombok Timur (Inside Lombok) – Aktivitas pertambangan galian C di Desa Korleko, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), memicu keresahan sejumlah petani. Mereka khawatir lahan perkebunan yang menjadi sumber penghidupan sehari-hari terancam amblas karena lokasi tambang yang berada terlalu dekat dengan area pertanian warga.

Yulastri (36), salah seorang petani setempat, mengaku kondisi tersebut membuatnya hidup dalam kekhawatiran, terutama saat musim hujan tiba. Tanah di sekitar lahan pertanian diketahui cukup gembur, sehingga dikhawatirkan dapat runtuh jika terus digali tanpa memperhatikan jarak aman. “Kami takut kalau nanti hujan deras atau angin kencang, tanah bisa amblas. Lokasinya ini kan sudah sangat dekat sekali dengan kebun,” ujarnya, Selasa, (7/10/2025).

Yulastri menegaskan, para petani tidak mempermasalahkan keberadaan tambang selama aktivitas tersebut tidak merugikan masyarakat sekitar dan tetap mengikuti aturan yang berlaku. Ia berharap pengelola tambang dapat mempertimbangkan jarak dan dampak lingkungan sebelum melakukan penambangan. “Silakan menambang, tapi jangan sampai merugikan orang lain. Harus ada jarak aman dari lahan warga supaya tidak ada kerusakan,” tambahnya.

Ia juga menyoroti minimnya komunikasi antara pemilik tambang dan petani sebelum lokasi tersebut dibuka. Menurutnya, musyawarah dengan warga sekitar seharusnya dilakukan sejak awal agar tidak menimbulkan kerugian di kemudian hari.

Hal senada disampaikan Fahmi (39), petani lainnya. Ia menceritakan, sebelum lahan di sekitar desanya berubah menjadi area tambang, wilayah tersebut ditumbuhi banyak pohon kelapa dan terdapat jalan yang biasa digunakan warga untuk menuju kebun. Kini, sebagian besar lahan tersebut telah berubah fungsi menjadi lokasi galian.

“Dulu di sana banyak pohon kelapa, tapi dijual dan sekarang jadi tambang. Bahkan jalan yang dulu kami lalui ke kebun sudah tidak ada lagi,” tuturnya.

Fahmi menolak tawaran pembelian lahan miliknya oleh pihak tambang karena tanah tersebut merupakan warisan keluarga. Namun, ia tetap khawatir kondisi lahan akan terdampak akibat aktivitas galian yang berada terlalu dekat, termasuk risiko air irigasi meresap dan menyebabkan tanah amblas.

“Biasanya sebulan sekali kami lakukan pengairan, tapi sekarang khawatir airnya meresap ke area tambang. Kondisi ini bikin kami was-was,” ujarnya.

Para petani berharap Pemerintah Daerah Lotim turun tangan mengawasi aktivitas tambang dan menindak tegas pihak yang terbukti melanggar aturan. Mereka menilai pengawasan yang lebih ketat diperlukan agar keberadaan tambang tidak merugikan masyarakat sekitar. “Kami hanya ingin ada perhatian dari pemerintah. Jangan sampai kami yang hidup dari hasil kebun justru jadi korban,” pungkas Fahmi.

- Advertisement -

Berita Populer