Lombok Timur (Inside Lombok) – Puluhan pemuda Desa Korleko bersama mahasiswa yang tergabung dalam kolektif Korleko Melawan dan XR Lombok menggelar aksi penanaman mangrove dan pandan laut di Muara Pantai Bangsal, Minggu (15/2/2025). Kegiatan bertajuk “Menanam Melawan” ini dilakukan sebagai respons atas abrasi pantai dan menurunnya kualitas air yang diduga akibat aktivitas tambang galian C di wilayah tersebut.
Kegiatan diawali dengan pembagian bibit di pesisir pantai sekitar pukul 08.00 Wita, kemudian dilanjutkan penanaman pada pukul 08.45 Wita. Sekitar 30 peserta terlibat dalam aksi tersebut. Penanaman ini merupakan rangkaian dari nonton bareng film dokumenter “Galian Celaka” yang digelar bersama warga pada 14 Februari 2026.
Aksi tersebut disebut sebagai simbol protes dan bentuk mosi tidak percaya terhadap pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga aparat penegak hukum yang dinilai belum mampu menghentikan dampak kerusakan lingkungan akibat tambang pasir di desa itu. Ketua Karang Taruna Desa Korleko, Farman, mengatakan abrasi yang terjadi setiap tahun semakin menggerus lahan warga.
“Setiap tahun kebun warga terus terkikis ombak. Kurang lebih lima sampai enam meter lahan hilang. Penanaman ini menjadi langkah awal kami untuk memperbaiki kondisi pesisir desa,” ujarnya.
Ia menegaskan kegiatan tersebut bukan sekadar aksi tanam pohon, tetapi juga bentuk perlawanan terhadap kerusakan lingkungan yang dinilai semakin parah. Selain abrasi, limbah tambang disebut turut memperburuk kondisi daerah aliran sungai di sekitar desa. Salah seorang peserta, Ansory, mengungkapkan lahan milik keluarganya ikut terdampak.
“Dulu lahan kakek saya sekitar tiga hektare, sekarang tersisa kurang lebih satu hektare karena terkikis selama bertahun-tahun,” katanya.
Sementara itu, Hendrik dari XR Lombok menyebut aksi ini sebagai inisiatif mandiri masyarakat untuk memulihkan lingkungan. “Penanaman ini menjadi semangat baru untuk memperbaiki lingkungan di Lombok, khususnya di Korleko. Karena belum ada langkah konkret, masyarakat memilih bergerak sendiri,” ujarnya.
Usai penanaman, peserta berkumpul untuk makan bersama dan melakukan evaluasi sekitar pukul 10.30 Wita sebelum kembali ke rumah masing-masing. Aksi ini diharapkan menjadi langkah awal pemulihan pesisir sekaligus pengingat pentingnya menjaga lingkungan dari dampak eksploitasi.

