25.5 C
Mataram
Rabu, 11 Februari 2026
BerandaLombok TimurTerapkan Pembinaan Berbasis Pesantren, Lapas Selong Ubah Sebutan Napi Jadi Santri

Terapkan Pembinaan Berbasis Pesantren, Lapas Selong Ubah Sebutan Napi Jadi Santri

Lombok Timur (Inside Lombok) – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Selong mengubah sebutan narapidana menjadi “santri” sebagai bagian dari transformasi pembinaan berbasis keagamaan di bawah kepemimpinan Kepala Lapas Sudirman. Kebijakan ini diterapkan untuk mengubah cara pandang terhadap warga binaan dan memperkuat pembinaan spiritual agar mereka tidak mengulangi kesalahan saat kembali ke masyarakat. Program tersebut mulai dijalankan dengan konsep menyerupai sistem pondok pesantren di dalam lapas.

Sudirman mengatakan perubahan istilah tersebut merupakan langkah progresif dalam pembinaan warga binaan. Menurutnya, pendekatan spiritual dijadikan fondasi utama dalam proses pembinaan.

“Kami ingin menyentuh hati mereka lewat pendekatan agama, agar saat kembali ke masyarakat nanti tidak mengulangi kesalahan yang sama,” ujarnya, Rabu (11/02/2026).

Di dalam lapas, para santri mengikuti pembelajaran Al-Qur’an melalui Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) yang dibentuk khusus. Berdasarkan data Lapas Selong, dari total 496 warga binaan, sebanyak 149 santri sebelumnya belum mengenal huruf hijaiyah. Meski sebagian besar berusia lanjut, mereka tetap mengikuti proses pembelajaran secara aktif.

Untuk memperkuat pembinaan kepribadian, Lapas Selong menerapkan program One Day One Juz yang mewajibkan santri membaca Al-Qur’an setiap usai salat Zuhur. Selain itu, diterapkan Sistem Mentor, yakni santri yang sudah mahir mengaji membimbing rekan-rekannya yang masih belajar Iqro. Lapas juga menyiapkan program Satu Santri Satu Al-Qur’an, di mana setiap santri yang bebas akan diberikan Al-Qur’an sebagai bekal.

Selain pembinaan rohani, Lapas Selong mengembangkan pembinaan kemandirian melalui berbagai pelatihan keterampilan. Produk lokal bertajuk “Sel 199” menjadi salah satu hasil karya para santri. Pelatihan yang dijalankan meliputi bengkel pengelasan, jasa cuci mobil dan motor, serta pelatihan bersertifikat bekerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP).

Sudirman menyatakan program tersebut bertujuan membekali santri dengan keahlian dan sertifikat resmi sebagai modal mencari penghidupan setelah bebas. “Kami ingin mereka keluar dari sini bukan dengan stigma, tetapi sebagai santri yang siap membawa perubahan positif di tengah masyarakat,” tutup Sudirman.

- Advertisement -

Berita Populer