24.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaLombok TimurTinggal di Gubuk Reyot, Dua Lansia dan Satu Cucu Jalani Hari dengan...

Tinggal di Gubuk Reyot, Dua Lansia dan Satu Cucu Jalani Hari dengan Keterbatasan

Lombok Timur (Inside Lombok) – Di balik hiruk-pikuk pembangunan, masih ada potret kehidupan yang jauh dari kata layak. Dari Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, kisah memilukan datang dari sebuah gubuk reot yang hampir roboh, tempat tinggal tiga jiwa yang berjuang bertahan hidup, yakni Papuk Gesok, Papuk Sahmin, dan cucunya, Eron Azmi.

Papuk Gesok yang usianya diperkirakan hampir satu abad, kini sudah tak berdaya. Tubuh rentanya tak lagi sanggup berjalan, sehingga setiap kali berpindah tempat, ia hanya bisa menyeret tubuhnya. Di sisi lain, Papuk Sahmin yang juga sudah lanjut usia masih memaksa diri bekerja serabutan demi sekadar memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Cucu mereka, Eron Azmi, adalah seorang pelajar kelas 9 SMP Satu Atap 3 Jerowaru. Namun, di usianya yang seharusnya dipenuhi dengan belajar dan bermain, Eron kerap harus ikut bekerja sebagai buruh serabutan untuk membantu biaya hidup keluarga kecilnya. Bahkan, beberapa waktu lalu kakinya terluka karena kecelakaan saat bekerja di ladang.

Kondisi mereka diketahui publik ketika salah seorang guru dari SMP Negeri Satu Atap 1 Jerowaru, Dermawan, bersama rekan guru lainnya menjenguk Eron yang tidak masuk sekolah karena sakit. Saat itu, mereka dikejutkan dengan pemandangan memilukan: sebuah rumah yang nyaris roboh, berdinding anyaman bambu yang sudah bolong di mana-mana. “Mereka hidup seadanya, tidak ada yang diharapkan,” ujar Dermawan.

Adapun, Eron memang sudah tinggal bersama nenek dan buyutnya sejak balita. Dalam keterbatasan, ia tetap berusaha menempuh pendidikan, meski sering kali harus berbagi waktu dengan pekerjaan kasar untuk sekedar menyambung hidup.

Dermawan berharap ada perhatian serius dari pemerintah maupun masyarakat. Sebab, bukan hanya rumah reot yang mengancam keselamatan, tetapi juga kondisi kesehatan Papuk Gesok dan beban hidup yang ditanggung cucunya. “Rumahnya bisa roboh kapan saja. Saya berharap ada uluran tangan untuk mereka,” pungkasnya.

- Advertisement -

Berita Populer