31.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaLombok TimurWarga UPT Jeringo Tinggalkan Lahan Saat Kemarau, 200 Hektare Terbengkalai

Warga UPT Jeringo Tinggalkan Lahan Saat Kemarau, 200 Hektare Terbengkalai

Lombok Timur (Inside Lombok) – Setiap musim kemarau, puluhan warga Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Jeringo, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, terpaksa meninggalkan rumah dan lahan pertanian mereka karena kekeringan. Akibatnya, sekitar 200 hektare lahan di wilayah tersebut terbengkalai tanpa aktivitas.

Penjabat Kepala Desa Jeringo, Muliadi, mengatakan fenomena ini terjadi setiap tahun saat curah hujan berhenti. Warga tidak memiliki pilihan selain pergi karena lahan pertanian tidak dapat digarap akibat ketiadaan air irigasi. “Tidak ada air untuk irigasi, jadi lahan dibiarkan kering. Saat hujan tiba, barulah mereka kembali untuk bercocok tanam,” jelas Muliadi, Senin (6/10).

Ia menambahkan, air untuk kebutuhan rumah tangga masih tersedia, tetapi jumlahnya tidak mencukupi untuk mendukung kegiatan pertanian. Muliadi menyebut ada potensi sumber air dari mata air terjun Selir yang dapat dimanfaatkan jika pemerintah membangun embung atau saluran penampung air. “Kalau itu bisa direalisasikan, airnya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pertanian,” ujarnya.

Selain persoalan air, warga UPT Jeringo juga menghadapi kendala kepemilikan lahan. Sejak kawasan tersebut ditetapkan sebagai lokasi transmigrasi pada 2009, belum ada satu pun dari sekitar 200 warga yang menerima sertifikat hak milik atas lahan dan rumah mereka. “Sudah 16 tahun kami menunggu. Ada sekitar 200 warga dan fasilitas umum yang belum bersertifikat,” ungkap Muliadi.

Permasalahan kepemilikan lahan diperparah oleh sengketa akibat tumpang tindih klaim antara warga dan pihak lain. Menurut Muliadi, isu ini telah disampaikan langsung kepada Menteri Transmigrasi saat kunjungan beberapa waktu lalu, dan pemerintah pusat berjanji akan memprioritaskan penyelesaiannya. “Janji dari kementerian sudah ada, sekarang tinggal menunggu realisasinya,” tambahnya.

Warga berharap pemerintah segera membangun embung dan menyelesaikan proses sertifikasi lahan agar kehidupan mereka tidak lagi bergantung pada musim. “Kalau ada air, insya Allah kami bisa bertahan dan kehidupan akan terus berjalan,” pungkas Muliadi.

- Advertisement -

Berita Populer