Lombok Utara (Inside Lombok) – Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU) memasang empat tower sirine peringatan bencana sebagai upaya mitigasi menghadapi 11 potensi ancaman bencana, termasuk gempa bumi. Pemasangan ini merupakan bantuan dari Bank Dunia setelah gempa 2018 yang meluluhlantakkan wilayah tersebut.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KLU, Zaldi Rahardian, mengatakan bantuan tersebut juga mencakup pembangunan gedung Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) beserta peralatannya. Empat tower sirine itu ditempatkan di Segara Katon, Gondang, Jenggala, dan Sokong.
“Jadi tim BNPB beserta ahlinya melakukan sosialisasi di masyarakat dan sekaligus melakukan uji coba. Empat tower sirine ini pusatnya di Pusdalops, ada pusat pengendalinya di sana,” ujarnya, Selasa (30/9).
Zaldi menjelaskan, sirine akan diaktifkan berdasarkan informasi kebencanaan dari BMKG yang terhubung dengan Pusdalops. Mekanismenya menggunakan tombol notifikasi mulai dari status waspada, siaga, hingga awas. Pada status awas, sirine akan berbunyi dengan jangkauan radius 3–4 kilometer, dan akan memberikan informasi tambahan jika kondisi dinyatakan aman.
Menurutnya, keberadaan tower sirine ini menjadi bagian dari mitigasi bencana yang lebih terstruktur. Sebelumnya, Bank Dunia juga telah memberikan dukungan melalui program Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Keluarga Siaga Bencana (Kencana).
“Alat ini sangat penting untuk mitigasi dan mengurangi risiko dampak akibat bencana. Memang alat ini dirancang untuk gempa dan tsunami,” jelasnya.
KLU dipilih sebagai penerima bantuan karena berada di kawasan rawan dengan 11 potensi bencana. Ancaman gempa dari dua lempengan di bawah wilayah ini, termasuk potensi gempa megathrust sebagaimana disampaikan BNPB, menjadi alasan utama perlunya peningkatan kesiapsiagaan.
“Kita tidak tahu kapan bencana akan terjadi, itulah fungsinya alat ini agar masyarakat bisa bersiap-siap untuk mengurangi risiko korban jiwa dan kerugian harta benda,” tandasnya.

