Lombok Utara (Inside Lombok) – Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lombok Utara (KLU), Rohani Najmul Ahyar, menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya kasus perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan yang dinilai mengancam kesehatan mental generasi muda. Pernyataan itu disampaikannya pada Jumat (13/2), sebagai respons terhadap fenomena perundungan yang berdampak pada trauma dan penurunan semangat belajar anak.
Ia menyebut dampak bullying tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga dapat memicu trauma hingga membuat anak enggan kembali ke sekolah. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi persoalan serius yang harus ditangani secara sistemik.
“Jujur, hati saya berat menyampaikan ini. Jika ada anak yang sampai trauma dan enggan sekolah lagi, itu adalah dampak yang sangat fatal. Kita sedang bicara soal masa depan yang dipertaruhkan,” ungkapnya, Jumat (13/2).
Rohani menegaskan penanganan bullying tidak dapat dibebankan hanya kepada guru, tetapi memerlukan keterlibatan orang tua dan masyarakat. Ia mendorong penguatan kapasitas Dinas Sosial dan para konselor melalui pelatihan dan pendalaman materi agar pencegahan perundungan dapat berjalan efektif.
“Harus ada pendalaman materi dan pelatihan yang lebih masif agar sosialisasi pencegahan perundungan tidak hanya menjadi slogan, tetapi aksi nyata,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan tenaga pendidik untuk tidak memberikan label negatif kepada siswa karena dapat berdampak pada kondisi psikologis anak. “Tidak ada anak yang bodoh atau nakal. Setiap anak memiliki waktu tumbuh dan potensi yang berbeda. Tugas pendidik adalah memastikan mereka merasa berharga dan aman di sekolah,” tegasnya.
Rohani berharap adanya kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif dan aman bagi anak. “Persoalan bullying ini harus menjadi perhatian bersama lintas pihak, agar tidak lagi memakan korban mental di kalangan pelajar,” pungkasnya.

