Lombok Utara (Inside Lombok) – Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU) menginginkan ada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang mengelola penggilingan padi atau gabah hasil panen petani di kabupaten tersebut. Pasalnya selama ini, penggilingan padi yang ada masih skala kecil. Sedangkan untuk skala besar dilakukan di Lombok Tengah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) KLU, Tresnahadi menjelaskan rata-rata produksi gabah yang dihasilkan sekitar 6 ton per hektarenya. Jika melihat luasan lahan ribuan hektare, maka gabah yang hasilnya bisa mencapai puluhan ribu ton.
Saat ini untuk hasil produksi padi di KLU tercatat surplus. Meski demikian, ada gabah dibawa keluar untuk dilakukan penggilingan. “Biasanya dikirim ke Lombok tengah, karena disana juga tempat penggilingannya. Karena kita tidak punya heler (penggilingan, Red) yang berkapasitas besar, hanya yang kecil kecil saja,” ujarnya, Selasa (20/5).
Nantinya setelah dilakukan proses penggilingan menjadi beras di Lombok Tengah, kemudian dikirim kembali ke KLU. Kondisi ini menjadi atensi Pemda KLU, lantaran setiap melakukan penggilingan padi atau gabah dengan jumlah yang besar harus di proses diluar. KLU sendiri mempunyai tempat penggilingan padi, hanya saja yang ada skala kecil.
“Kalau kita hitung-hitung (anggarannya,red) besar sekali kebutuhan untuk heler skala besar ini, mungkin kedepannya BUMD yang menjadi garda terdepan untuk proses pengolahan itu,” terangnya.
Lebih lanjut, dalam hal ini tentu Pemda KLU mempunyai rencana untuk membangun tempat penggilingan padi dengan kapasitas yang besar. Hanya saja terbentur anggaran, sehingga belum bisa dipenuhi dalam waktu dekat ini. “Sekarang ini BUMD kita diaktifkan kembali oleh pemkab. Jadi lebih pas dilaksanakan oleh BUMD, karena mereka itu murni untuk bisnis. Misalkan dia punya heler sendiri dengan kapasitas besar lebih bagus, dia beli (gabah petani, Red) langsung diolah, bisa dikemas dan bisa dijual lagi ke masyarakat,” ungkapnya.
Sementara ini belum ada BUMD yang bergerak dibidang pengolahan penggilingan padi. Meskipun sebelumnya ada BUMD yang berbisnis di beras, tetapi skalanya kecil. Untuk itu diharapkan ada BUMD dengan skala lebih besar bisa menjadi garda terdepan pengolahan gabah petani KLU. “Mudah-mudahan kedepannya bisa terlaksana dan BUMD bisa menjadi garda terdepan pengolahan gabah itu,” pungkasnya. (dpi)

