Lombok Utara (Inside Lombok) – Pemerintah Kabupaten Lombok Utara menargetkan perluasan lahan tanam padi pada Musim Tanam Kedua (MT2) tahun 2026 sebagai upaya meningkatkan Luas Tambah Tanam (LTT) dan mendukung program swasembada pangan. Program tersebut difokuskan pada pemanfaatan lahan yang sebelumnya ditanami palawija menjadi lahan padi, Jumat (23/3/2026).
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Lombok Utara, Tresnahadi, mengatakan perubahan pola tanam ini bermula dari kesepakatan kelompok tani di wilayah Gondang. “Petani di Gondang biasanya menanam kacang tanah. Tapi sekarang harga bibitnya mencekik, mencapai Rp50.000 per kilogram. Untuk satu hektare lahan, butuh modal bibit saja sekitar Rp10 juta. Itu belum termasuk biaya pupuk dan buruh tani,” ujarnya.
Ia menjelaskan, petani kemudian memilih beralih ke padi karena dinilai lebih menjanjikan secara ekonomi pada musim ini. Pemerintah daerah juga telah mengantisipasi kebutuhan air melalui koordinasi dengan Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR agar pasokan air tetap tersedia selama MT2. “Hasilnya debit air dipastikan aman untuk mengairi sawah-sawah di tengah percepatan Indeks Pertanaman (IP),” terangnya.
Selain itu, kebutuhan pupuk juga diantisipasi dengan melakukan penyesuaian alokasi. “Karena jatah pupuk MT3 digeser ke MT2 untuk memenuhi kebutuhan mendesak, kita relokasi. Kemudian pemerintah pusat juga menjamin tambahan alokasi pupuk selama lahan benar-benar ditanami padi,” bebernya.
Melalui gerakan tanam padi MT2 ini, pemerintah daerah optimistis stabilitas pasokan beras di Lombok Utara dapat terjaga. Petugas lapangan juga dikerahkan untuk melakukan pendampingan teknis kepada petani mulai dari pengolahan lahan hingga masa panen.
“Dengan sinergi air yang cukup, pupuk yang tersedia, dan pendampingan teknis, kami yakin MT2 kali ini akan sukses memberikan kontribusi besar bagi lumbung pangan daerah,” pungkasnya.

