Mataram (Inside Lombok) – Lombok Womenpreneur Club (LWC) terus gencarkan program pelatihan komprehensif bagi para warga binaan perempuan. Dimana berbagai pelatihan lain diberikan, sehingga membuka beragam opsi bagi warga binaan sesuai minat mereka. Dengan tujuan pelatihan ini bisa menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat sebagai perempuan yang mandiri dan berdaya.
Founder LWC, Indah Purwanti mengatakan, bahwa program pemberdayaan ini berfokus pada pembekalan soft skill yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja dan potensi usaha mikro. Mulai dari kelas membuat kue, pelatihan merangkai kerajinan mutiara, pelatihan makrame home decor. Ada juga pelatihan di bidang kecantikan dan relaksasi. Kondisi ini sangat relevan dengan tren industri yang terus berkembang, memberikan bekal keterampilan profesional yang dapat langsung diterapkan pasca pembebasan.
“Kita berikan beberapa opsi pelatihan dan mereka daftar sendiri. Jadi mereka yang minat dimasak, mereka daftar baking, yang minat kerajinan mendaftar di crafting, dan yang minat salon dan spa, mereka daftar di refleksi dan facial,” ujarnya, Kamis (12/6).
Lebih lanjut, dikatakannya bahwa program ini adalah adanya kebijakan baru dari pemerintah yang disampaikan oleh Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Hukum dan HAM. Kebijakan ini secara signifikan menghapus syarat Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) untuk melamar pekerjaan. Selama ini, stigma dan hambatan birokrasi, terutama terkait SKCK, seringkali menjadi tembok tebal yang menghalangi mereka untuk kembali produktif di masyarakat.
“Jadi, setelah keluar dari Lapas mereka bisa mendaftar pekerjaan, karena sudah tidak memerlukan SKCK. Artinya, setelah mereka bebas, tidak ada lagi embel-embel catatan kriminal yang menghalangi mereka mendapatkan pekerjaan yang layak,” ungkapnya.
Ditambah dengan keterampilan diperoleh dari program LWC menjadi kombinasi sempurna untuk reintegrasi sosial yang sukses. Kemudian bekal keterampilan seperti memasak, merangkai kerajinan, atau layanan salon dan spa, mereka tidak hanya bisa melamar pekerjaan, tetapi juga memiliki opsi untuk membuka usaha kecil-kecilan.
“Mereka sekarang mempunyai keterampilan untuk cooking atau keterampilan lain salon dan lainnya bisa dipraktekkan saat mereka melamar pekerjaan atau bisa membuka usaha kecil-kecilan dulu,” jelasnya.
Meskipun program ini berjalan selama tiga bulan, durasi tersebut dianggap cukup memadai untuk memberikan pondasi keterampilan yang kuat. Bahkan diharapkan agar program semacam ini tidak hanya berlanjut, tetapi juga bisa berpindah-pindah lokasi, tidak hanya terfokus di satu tempat, agar lebih banyak warga binaan di berbagai fasilitas pemasyarakatan dapat merasakan manfaatnya. “Ada tempat untuk para eks napi untuk berjualan di sana mereka yang bangunkan areanya kemudian ada bazarnya buat UMKM dan setiap minggu pun ada kegiatan di sana,” tuturnya.
Sementara itu, program di Lapas Perempuan Mataram ini hanyalah salah satu dari rangkaian agenda tahunan LWC dalam memberdayakan perempuan. Bahkan LWC memiliki visi yang lebih besar. Nantinya akan melanjutkan program pemberdayaan perempuan lainnya yang menyasar segmen berbeda.
“Selanjutnya program pemberdayaan perempuan ada Women Entrepreneur Competition, sasarannya adalah mahasiswi yang memiliki bisnis, belajar berbisnis, kita lombakan dan ada rangkaian kegiatannya,” pungkasnya. (dpi)

