Lombok Utara (Inside Lombok) – Pelaku usaha transportasi lokal di Kabupaten Lombok Utara (KLU) mengeluhkan maraknya angkutan luar wilayah yang mangkal di sekitar Pelabuhan Bangsal. Keberadaan armada tersebut dinilai merusak ekosistem transportasi lokal karena diduga menggunakan jasa calo dan menerapkan tarif di bawah kesepakatan, Rabu (21/1).
Ketua Koperasi Wisata Nusantara Mandiri (Wisnuman) KLU, Raden Bambang Sunarto, menegaskan persoalan ini bukan terkait dengan operasional taksi Bluebird. Ia menyebut permasalahan taksi Bluebird yang sempat terjadi sebelumnya telah diselesaikan oleh Pemerintah Daerah KLU dan kondisi saat ini sudah kondusif.
“Perkembangan untuk saat ini, taksi Bluebird tidak ada lagi yang mangkal di dalam area Pelabuhan Bangsal. Tapi mereka tetap diperbolehkan untuk antar jemput tamu seperti biasanya,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan utama justru berasal dari angkutan luar daerah yang menurunkan penumpang di Bangsal, kemudian menunggu di luar area pelabuhan untuk mencari penumpang baru. Praktik tersebut diduga melibatkan calo dan penerapan tarif murah yang merusak kesepakatan harga transportasi lokal.
“Mereka merusak harga dengan prinsip daripada pulang kosong. Ini jelas mengurangi kesempatan driver Wisnuman untuk mendapatkan penumpang,” ungkapnya.
Ia meminta Dinas Perhubungan Provinsi NTB segera turun tangan mengatur tata kelola transportasi di Pelabuhan Bangsal. Menurutnya, jika pendapatan sopir lokal terus menurun di tengah kondisi penumpang yang sepi, dikhawatirkan dapat berdampak pada meningkatnya potensi gangguan keamanan di kawasan wisata strategis seperti Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air.
“Kami mohon dengan sangat hormat kepada para pemangku kebijakan untuk mengkaji ulang kebijakan yang merugikan masyarakat atau pelaku usaha lokal,” imbuhnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat KLU, Bimbo, menyatakan dukungannya terhadap upaya modernisasi transportasi lokal. Ia menyebut rencana penguatan Koperasi Wisnuman akan dilakukan melalui standarisasi kendaraan, seragam pengemudi, serta pengembangan layanan pemesanan berbasis aplikasi.
“Tidak menutup kemungkinan kedepannya kami akan mengembangkan aplikasi pemesanan online sendiri,” ujarnya.

