Lombok Utara (Inside Lombok) – Menjelang Ramadhan 2026, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU) menggelar panen raya cabai rawit di Desa Akar-Akar, Kecamatan Bayan. Kegiatan ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga pangan, mengingat cabai rawit kerap menjadi penyumbang inflasi saat permintaan meningkat menjelang hari besar keagamaan.
Kepala Perwakilan BI Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, mengatakan momentum panen tersebut krusial karena cabai rawit merupakan komoditas yang sensitif terhadap gejolak harga. “Tekanan harga kerap terjadi karena lonjakan permintaan yang tidak dibarengi selarasnya waktu panen antarwilayah. Oleh karena itu, kesinambungan produksi dan kelancaran distribusi adalah kunci untuk melindungi daya beli masyarakat,” ujarnya.
Panen dilaksanakan di lahan seluas 5,5 hektare dari total 40 hektare yang dikelola, antara lain oleh Kelompok Tani Beriuk Geger yang beranggotakan 41 orang. Dengan produktivitas rata-rata 2–3 ton per hektare, kelompok tani yang berdiri sejak tahun 2000 itu dinilai konsisten mendukung ketahanan pangan daerah. “Poktan Beriuk Geger sebagai salah satu sentra produksi cabai unggulan di KLU,” katanya.
Sebagai dukungan, Bank Indonesia menyerahkan bantuan sarana dan prasarana produksi pertanian secara simbolis kepada Poktan Beriuk Geger. Bantuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas hortikultura di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan KLU, Tresnahadi, menyampaikan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat sektor hortikultura melalui penyaluran bibit dan benih, pendampingan teknis, serta penguatan sarana produksi.
“Kami terus memperkuat sektor ini melalui penyaluran bibit, pendampingan teknis, hingga penguatan sarana produksi. Tujuannya jelas untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendukung agenda ketahanan pangan nasional,” ungkapnya.
Hasil panen Desa Akar-Akar diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan kLU serta menyokong pasokan ke wilayah lain di NTB yang mengalami tekanan harga. Ke depan, koordinasi dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah akan diperketat melalui pemantauan stok dan skema pemenuhan pasokan antardaerah.
“Melalui skema pemenuhan pasokan dari luar daerah apabila diperlukan, untuk memastikan ketersediaan pasokan tetap terjaga dan volatilitas harga pangan dapat terkendali hingga Idul Fitri mendatang,” pungkasnya.

