Lombok Utara (Inside Lombok)- Kawasan wisata Gili Trawangan kembali berduka setelah api melalap sejumlah bangunan pada Kamis (12/3) pagi. Meski api berhasil dijinakkan, insiden ini mempertegas tantangan besar dalam penanganan kebakaran di wilayah kepulauan. Terlebih material bangunan yang rentan dan keterbatasan sarana prasarana (sarpras).
Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Lombok Utara (KLU), Erwin Rahadi, mengakui bahwa armada roda tiga yang saat ini disiagakan di wilayah Gili masih jauh dari kata ideal untuk menangani kebakaran skala besar. Keluhan ini pun telah dikoordinasikan langsung dengan Bupati KLU.
“Kondisi sarpras kita di sana memang kurang pas kalau hanya mengandalkan roda tiga. Pak Bupati mengarahkan minimal kita siapkan armada sekelas Granmax untuk mobilitas di tiga Gili (Trawangan, Meno, dan Air),” ungkapnya, Kamis (12/3).
Selain pembaruan armada, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) KLU berencana menambah personel pos damkar di ketiga pulau tersebut guna mempercepat response time setiap ada kejadian kebakaran di wilayah Tiga Gili.
Mengingat kejadian serupa telah berulang kali terjadi, Dinas Damkar KLU mendesak para pelaku usaha di kawasan Gili untuk lebih sadar terhadap standar keamanan bangunan. Penggunaan material kayu dan ilalang memang estetis untuk pariwisata, namun memiliki risiko kebakaran yang tinggi.
Beberapa poin yang ditekan Damkar antara lain, standarisasi bangunan dengan memperhatikan instalasi listrik secara berkala. Setiap bangunan wajib memiliki Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang siap pakai. Menyiapkan mesin penyemprot air portabel sebagai langkah penanganan dini.
“Harapan kita, pelaku usaha lebih memahami standar keamanan. Jangan sampai kejadian ini terus berulang tanpa ada mitigasi yang kuat dari sisi pemilik bangunan,” tutupnya.

