26.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaLombok UtaraTradisi Budaya di KLU Jadi Magnet Gaet Wisatawan Luar

Tradisi Budaya di KLU Jadi Magnet Gaet Wisatawan Luar

Lombok Utara (Inside Lombok)- Sejumlah tradisi budaya yang ada di Lombok Utara (KLU) menjadi salah satu daya tarik mendongkrak sektor pariwisata di wilayah tersebut. Mengingat selama ini KLU hanya dikenal dari Tiga Gili (Trawangan, Air, Meno) saja. Padahal banyak tradisi budaya yang bisa ditampilkan, sehingga lebih banyak wisatawan berkunjung ke darat.

Wakil Bupati KLU, Kusmalahadi Syamsuri, mengatakan belum lama ini ia menghadiri Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) di Desa Sukadana, Kecamatan Bayan. Kegiatan PORSENI di wilayah itu menyedot perhatian wisatawan dengan menampilkan kekayaan budaya dari 11 dusun yang ada. “Dari situ saya coba komunikasi sama kawan-kawan, bisa tidak kita adakan PORSENI ini secara tahunan. Festival ini tidak hanya di satu desa, tapi di 43 desa di KLU kita minta munculkan tradisinya,” ujarnya, Jumat (22/8).

Menurutnya, jika PORSENI tersebut bisa dilaksanakan setiap tahun dan tidak hanya Desa Sukadana yang melaksanakan, tetapi 43 yang ada ikut terseret, maka bisa saja festival tersebut dijadikan kalender event tahunan. Tentunya dengan menampilkan kebudayaan-kebudayaan yang ada di masing-masing desa. “Saya ingin kebudayaan ini dimunculkan, terutama di Senaru. Kita tahu banyak bule yang datang mau naik ke Rinjani. Cuma mereka hanya menaruh barang, berangkat ke Rinjani dan pulang. Tidak ada sesuatu yang kita sajikan untuk membuat mereka stay,” terangnya.

Banyak atraksi budaya yang bisa disuguhkan kepada wisatawan-wisatawan yang memang naik ke Rinjani melalui Senaru. Pasalnya, kebudayaan ini mempunyai magnet yang bagus, ketika ditawarkan kepada wisatawan, terutama wisatawan mancanegara. “Makanya saya coba inisiasi mungkin kita buatkan semacam amphitheater yang bisa digunakan, entah dua hari sekali atau tiga hari sekali. Mereka (masyarakat desa,red) yang atur untuk menampilkan budaya apa saja,” jelasnya.

Di sisi lain, ia memiliki ambisi besar untuk mencetak rekor Museum Rekor Dunia (MURI) melalui pawai budaya tersebut. Dengan melibatkan 300 hingga 500 orang per kecamatan, pawai ini akan menampilkan Jong Bayan, sebuah warisan budaya yang telah terkurasi secara resmi. Rencana ini juga terintegrasi dengan pengembangan kawasan ekonomi baru di Teluk Nare. Di sana, pemerintah akan membangun amfiteater dan sentra UMKM sebagai daya tarik baru. Tujuannya jelas, untuk menahan laju wisatawan yang kembali dari Gili. “Agar wisatawan yang dari Gili itu balik, tertahan sehari dua hari untuk menyaksikan kegiatan budaya,” ungkapnya.

Untuk itu, perlu ditekankan pentingnya atraksi budaya yang berkelanjutan, bukan hanya event sesekali. Dalam kunjungan ke Kementerian Kebudayaan beberapa waktu lalu, pihaknya telah meminta dukungan langsung dari Menteri Kebudayaan untuk mengembangkan budaya di Bayan. “Beliau langsung minta ajudan untuk hadir pada tanggal 8 September, sekaligus perayaan maulid adat,” pungkasnya. (dpi)

- Advertisement -

Berita Populer