Mataram (Inside Lombok) – Angka stunting di Kota Mataram pada 2025 tercatat sebesar 6,57 persen atau sekitar 1.100 anak, menjadi yang terendah di antara 10 kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan data yang dirilis Pemerintah Provinsi NTB, kasus baru stunting di Kota Mataram tercatat sebanyak empat kasus.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DP2KB Kota Mataram, Muhammad Carnoto, mengatakan capaian tersebut menunjukkan Kota Mataram memiliki angka stunting dan kasus baru terendah di NTB.
“Alhamdulilah dari rilis itu, Kota Mataram angka stuntingnya paling rendah sekitar 6,57 persen. Kasus barunya juga paling kecil. Kalau yang lain itu ada sampai 100 kasus baru,” katanya.
Carnoto menjelaskan, kasus baru yang muncul dipengaruhi beberapa faktor medis, salah satunya penyakit penyerta. “Kita berbicara stunting dan gizi buruk ini konsumsi sama penyakit penyerta,” katanya.
Pemerintah Kota Mataram melalui DP2KB berkomitmen menekan angka stunting hingga mencapai target 5 persen. Upaya tersebut dilakukan melalui pendampingan penyuluh KB dan intervensi pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (B3) agar tepat sasaran.
“Komitmen saya tetap fokus KRS itu tidak melahirkan anak stunting. Makanya dengan MBG itu pendamping keluarga dan penyuluh KB mendampingi sampai ke 3B itu,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya pencegahan pada 1.000 hari pertama kehidupan untuk mencegah kelahiran bayi stunting. “Makanya preventing itu lebih penting dari kuratif. Itu berdasarkan ilmu kesehatan masyarakat,” ungkapnya.
Carnoto menegaskan DP2KB tetap berkomitmen agar tidak ada lagi kasus stunting di Kota Mataram. “Jangan sampai anak Kota Mataram masih ada yang stunting. Kita berbicara bawah target tapi kan kita masih ada di Kota Mataram,” katanya.

