Mataram (Inside Lombok) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nusa Tenggara Barat (NTB) memperluas program literasi dan inklusi keuangan syariah dengan menyasar lingkungan pondok pesantren. Program ini dilakukan melalui inisiatif EPICS (Ekosistem Pusat Inklusi Keuangan Syariah) guna meningkatkan pemahaman keuangan santri sekaligus mencegah praktik investasi bodong, judi online (judol), dan pinjaman online ilegal (pinjol).
Kepala OJK NTB, Rudi Sulistyo, mengatakan pesantren saat ini tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga memiliki potensi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Melalui program tersebut, OJK berupaya mengintegrasikan layanan keuangan syariah langsung di lingkungan pesantren.
“Dulu namanya program Pesantren, sekarang kita perluas menjadi EPICS. Ini sudah berjalan di beberapa titik seperti di Raudatul Azhar, dan ke depan akan terus kita tambah,” ujarnya.
Ia menjelaskan edukasi yang diberikan tidak hanya bersifat teori di kelas, tetapi juga praktik langsung melalui pembukaan gerai layanan keuangan di lingkungan pondok pesantren. Beberapa di antaranya seperti gerai Agen Laku Pandai, agen Pegadaian, serta pengenalan produk perbankan dan investasi syariah.
Selain itu, para santri juga diberikan pemahaman terkait risiko keuangan digital, termasuk bahaya investasi bodong, judi online, dan pinjaman online ilegal. “Harapan kami, remaja (santri,red) ini mendapatkan edukasi digital yang tepat. Jangan sampai mereka tertipu atau masuk ke ranah pinjol tidak berizin dan investasi bodong,” imbuhnya.
Pimpinan Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa Nurul Hikmah Langko, TGH Azhar Rasyidi, menyambut baik program literasi keuangan yang dilakukan OJK tersebut. Ia menilai perputaran uang di lingkungan pesantren cukup besar sehingga membutuhkan pemahaman pengelolaan keuangan yang baik.
“Kita bersyukur dengan adanya program literasi dari OJK ini. Pesantren kini menjadi lebih peka dan membuka diri terhadap perkembangan ekonomi,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan literasi keuangan di kalangan santri diharapkan dapat mendorong kemandirian ekonomi pesantren ke depan. “Ini akan menambah semangat kami untuk menata masa depan pesantren yang lebih baik dan bergairah secara ekonomi,” pungkasnya.

