27.5 C
Mataram
Kamis, 19 Februari 2026
BerandaMataramDinkes Kota Mataram Pastikan Tak Ada Kasus Baru Stunting di Awal 2026

Dinkes Kota Mataram Pastikan Tak Ada Kasus Baru Stunting di Awal 2026

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram memastikan tidak ada penambahan kasus baru stunting per Januari 2026. Berdasarkan data terbaru, prevalensi stunting di Kota Mataram tercatat sebesar 5,53 persen dengan total 1.204 balita yang masuk kategori stunting.

Kepala Dinkes Kota Mataram, Emirald Isfihan, mengatakan pada awal tahun ini belum ditemukan status baru stunting. “Tidak ada kasus baru tahun ini,” katanya.

Ia menegaskan tren penanganan stunting berada di jalur positif dan membantah kabar adanya lonjakan atau penarikan data dari tingkat provinsi yang tidak sesuai dengan kondisi lapangan. “Kami sudah konfirmasi ke provinsi, tidak ada. Kami juga sudah cek ke seluruh Kepala Puskesmas, hasilnya tetap sama. Tren kita positif di angka 5,53 persen,” katanya.

Emirald menjamin validitas data karena proses pemantauan dilakukan secara digital dan terintegrasi serta diverifikasi langsung oleh petugas lapangan dan programmer di setiap Puskesmas.

“Saya tidak akan merilis data kalau memang tidak benar-benar valid. Kami menggunakan fasilitas digital dan alat ukur yang sudah pasti. Saya pastikan, per Januari 2026 ini tidak ada temuan kasus baru,” tegasnya.

Ia menyebutkan pemerintah saat ini fokus melakukan intervensi intensif terhadap 1.204 balita yang telah terdata agar segera keluar dari status stunting. “Kalau ada kasus baru, pasti saya yang pertama tahu karena prosedurnya wajib dilaporkan ke saya dulu. Sejauh ini, kita fokus menangani yang 1.204 anak itu agar angkanya terus turun,” katanya.

Untuk mencegah munculnya kasus baru, Dinkes memperketat pengawasan sejak masa kehamilan melalui program USG gratis di seluruh Puskesmas serta kewajiban persalinan di fasilitas kesehatan.

“Kita kawal dari proses kehamilannya. Selain USG gratis, kami mengharuskan persalinan dilakukan di fasilitas kesehatan, minimal di Puskesmas atau rumah sakit,” jelasnya.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan setiap bayi mendapatkan penanganan medis sejak lahir dan mendeteksi risiko lebih dini agar tidak berkembang menjadi kasus stunting baru.

- Advertisement -

Berita Populer