Mataram (Inside Lombok) – Di Kota Mataram masih ada Anak Tidak Sekolah (ATS). Untuk memastikan jumlah ATS, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram meluncurkan program baru bernama Mataram Terampil.
Kepala Disdik Kota Mataram, Yusuf, mengatakan bahwa fokus utama Mataram Terampil adalah pemetaan data ATS secara terintegrasi. Tidak hanya mencatat jumlah, tetapi juga memahami kebutuhan dan potensi mereka.
“Bagaimana mensinkronisasikan anak-anak yang tidak sekolah. Kan anak-anak yang tidak sekolah ini banyak terindikasi sehingga itu yang dibuatkan dan bekerjasama dengan Kominfo. Mendeteksi anak-anak sekarang ada di mana,” katanya Selasa (8/10) siang.
Ia menyebutkan, jumlah anak-anak yang terindikasi tidak sekolah yaitu sekitar 2.000 orang. Ribuan anak-anak ini tersebar di semua jenjang mulai dari tingkat TK hingga SMA sederajat. “Ada data di Pusdatin. Ada sekitar 2.000 kan. Itu belum tentu TK sampai SMP tetapi juga ada di tingkat SMA/SMK,” katanya.
Setelah anak tidak sekolah ini terdata, pihak Disdik Kota Mataram bekerjasama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika mendeteksi tempat tinggal anak-anak tersebut. Selanjutnya, akan dikoordinasikan dengan kecamatan hingga lingkungan. Upaya ini dilakukan agar anak yang tidak sekolah bisa melanjutkan pendidikan melalui sarana prasarana yang ada. “Biar anak-anak ini terselamatkan biar tetap sekolah,” tegasnya.
Alasan ribuan anak-anak ini tidak sekolah diakui Yusuf belum diketahui secara pasti. Sehingga itulah nanti fungsi dari aplikasi Mataram Terampil yang sudah dibuat. “Itu baru diidentifikasi. Semua persoalan bisa terdeteksi sama aplikasi itu. Tidak bisa kita dapat data dan persoalanya. Nanti lewat aplikasi itu apa masalahnya,” katanya.
Yusuf berharap kelurahan dan lingkungan bisa bekerja sama mengatasi anak-anak yang tidak bersekolah. Termasuk untuk anak-anak tingkat SMA akan dikoordinasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB. “ATS ini bukan tugas Pemkot Mataram saja, tapi pemprov di bawah Dinas Pendidikan Provinsi juga. Kita akan bekerjasama dengan lintas sektor,” katanya.
Diterangkan Yusuf, nanti anak-anak ini akan disekolah baik di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) atau sanggar kegiatan belajar (SKB). “Anak-anak ini harus tetap bersekolah,” kata Yusuf.

