Mataram (Inside Lombok) – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polda NTB ditutup sementara oleh Badan Gizi Nasional (BGN) setelah mendistribusikan apel busuk ke SDN 34 Ampenan pada Jumat (13/2). Surat teguran dan penghentian operasional sementara diterima pihak SPPG sejak Senin (16/2), sebagai sanksi administratif atas insiden tersebut.
Ketua SPPG Polda NTB, Agil Z. Agil, membenarkan adanya sanksi tersebut. “Kami sudah menerima surat teguran langsung. Operasional dihentikan sementara untuk melakukan evaluasi besar-besaran dan membenahi fasilitas yang ada di SPPG,” kata Agil, Rabu (18/2/2026).
Ia menjelaskan, penghentian operasional tidak memiliki batas waktu pasti karena menunggu hasil survei dan asesmen dari BGN. Pihaknya diwajibkan melakukan perbaikan menyeluruh, mulai dari sistem manajemen stok hingga peningkatan fasilitas dapur sebelum diizinkan kembali beroperasi.
“Tergantung pihak pusat (BGN). Mereka akan mensurvei dulu, kalau sudah dinilai siap dan layak, baru operasional dibuka kembali. Saat ini kami sedang berbenah besar-besaran,” tambahnya.
Agil membantah distribusi apel busuk dilakukan secara sengaja dan menyebut insiden tersebut terjadi akibat kelalaian saat penyortiran. “Jujur, ini murni kesalahan saat penyortiran. Mungkin hari sial atau bagaimana, tapi ada beberapa apel yang lewat dari pantauan petugas kami,” katanya.
Ia menyebut stok buah biasanya tiba satu hari sebelum didistribusikan. Terkait kejadian tersebut, pihaknya telah menawarkan penggantian pada hari yang sama, namun pihak sekolah meminta agar peristiwa itu dijadikan bahan evaluasi.
“Sudah diselesaikan kemarin itu. Kami menawarkan untuk ganti, tapi pihak sekolah mungkin tidak mau diganti waktu itu tapi maunya disuruh evaluasi,” katanya.
Selama masa penghentian operasional, distribusi makanan ke sekitar 11 hingga 12 sekolah dan sejumlah posyandu yang menjadi sasaran SPPG Polda NTB terhenti sementara.
“Kebetulan minggu ini sekolah sedang libur, jadi belum ada jadwal distribusi. Kami mengejar target agar pembenahan selesai sebelum hari Senin (23/2) depan, saat sekolah kembali masuk. Namun, untuk distribusi ke Posyandu memang terpaksa terhenti sementara,” katanya.

