24.5 C
Mataram
Senin, 12 Januari 2026
BerandaMataramJelang Metatah Massal, Ichal Gelar Diklat Sangging Pertama di NTB

Jelang Metatah Massal, Ichal Gelar Diklat Sangging Pertama di NTB

Mataram (Inside Lombok) – Di sebuah rangkaian acara yang sarat makna spiritual dan kebersamaan, umat Hindu di Lombok kembali menunjukkan kekuatan gotong royong tradisi. Pada (11/1), dua agenda penting digelar bersamaan: diklat sangging dan mejaye-jaye, sebuah langkah efisiensi waktu yang justru melahirkan peristiwa bersejarah.

Diklat sangging yang digelar kali ini menjadi yang pertama di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kegiatan tersebut bertujuan mempersiapkan tenaga sangging yang akan membantu pedande dalam prosesi Metatah Massal pada 25 Januari mendatang. Sebanyak 50 peserta mengikuti diklat ini, sementara pendaftar Metatah Massal tercatat lebih dari 200 orang.

Para peserta diklat nantinya berperan penting dalam prosesi pemotongan gigi, sebuah ritual sakral yang memiliki kriteria khusus dan tidak dapat dilakukan sembarang orang. Kehadiran diklat sangging ini menjadi jawaban atas kebutuhan teknis sekaligus regenerasi pelaku ritual keagamaan Hindu di Lombok.

Di hari yang sama, mejaye-jaye juga digelar sebagai prosesi pelantikan kepengurusan baru Pura Jagadnatha Sangkara Hyang periode 2026–2031. Dalam pelantikan tersebut, Komisi IV DPRD Kota Mataram, I Nengah Sugiartha alias Ichal terpilih sebagai ketua umum.

Bagi Ichal, rangkaian kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial. Sebelumnya, ia telah menggagas dan melaksanakan ngaben massal, disusul diklat sangging, dan akan ditutup dengan metatah massal. Seluruh kegiatan tersebut mendapat respons luas dan positif dari masyarakat Hindu di Lombok.

“Respons masyarakat sangat luar biasa. Dari ngaben massal pesertanya mencapai 50 orang, diklat sangging 50 orang, dan metatah massal sampai lebih dari 200 orang,” ungkap Ichal kepada Inside Lombok, Minggu, (11/1).

Menariknya, program-program ini awalnya dirancang untuk membantu masyarakat kurang mampu. Namun dalam pelaksanaannya, justru banyak masyarakat yang tergolong mampu ikut bergabung. “Awalnya kami buka untuk masyarakat yang tidak mampu. Tapi ternyata yang ikut bukan hanya itu. Banyak juga masyarakat mampu yang datang dan ikut berpartisipasi,” kata Ichal.

Ia menilai, antusiasme tersebut menunjukkan kerinduan umat Hindu akan ruang kebersamaan dalam menjalankan tradisi secara kolektif. Tak sedikit warga yang menyampaikan rasa terima kasih secara langsung atas terselenggaranya kegiatan-kegiatan tersebut. “Banyak yang mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Itu yang membuat kami merasa semua lelah terbayar,” tutupnya. (gil)

- Advertisement -

Berita Populer