Mataram (Inside Lombok) – KONI Kota Mataram menggelar pelatihan reposisi cedera selama dua hari, 16–17 Februari 2026, sebagai bagian dari persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB pada Juli mendatang. Kegiatan ini bertujuan memperdalam kemampuan para terapis dalam menangani cedera atlet sesuai cabang olahraga masing-masing.
Ketua KONI Kota Mataram, Firadz Pariska mengatakan pelatihan tersebut merupakan lanjutan dari rangkaian pembekalan sebelumnya yang telah dilaksanakan pada September lalu. “Ini merupakan lanjutan dari rangkaian sebelumnya yang sudah kita adakan pada bulan September. Beberapa bulan kedepan kita sudah menghadapi gelaran Porprov sehingga perlu pembekalan yang lebih intensif,” kata Firadz, Senin (16/2/2026).
Ia menjelaskan, pada tahap awal pelatihan lebih menitikberatkan pada penanganan dasar cedera, sedangkan pada tahap kedua lebih spesifik berdasarkan cabang olahraga dan teknik saat atlet mengalami cedera. “Kalau kemarin kan masih umum kalau sekarang lebih spesifik,” katanya.
Selain pelatihan, KONI Kota Mataram juga akan melengkapi para terapis dengan peralatan pendukung guna memaksimalkan penanganan cedera. “Bisa menangani risiko cidera yang biasa terjadi di semua atlet,” katanya. Firadz menambahkan, seluruh persiapan menuju Porprov sejauh ini berjalan sesuai rencana.
“Segala sesuatu sudah on the track. Semua sudah kita persiapan dengan matang dari sebelumnya dan sekarang itu koordinasi dengan bagian lini-lini,” imbuhnya.
Selama Ramadhan, intensitas latihan atlet dipastikan berkurang. Namun, KONI tetap memperhatikan asupan gizi atlet agar kondisi fisik tetap terjaga. “Kita sudah ada pelatihan gizi. Maksudnya adalah jangan sampai nanti pada saat ramadan performa atlet bakal menurun. Sehingga dengan adanya pelatihan kemarin pada saat berbuka puasa agar segara nutrisi dan gizi bisa tercukupi,” katanya.
Pihaknya juga menyiapkan panduan menu makanan yang dianjurkan dan dihindari saat berbuka puasa. Sementara itu, Dewan Pakar Persatuan Terapis Olahraga Indonesia Tommy Fondy mengatakan pelatihan tahap kedua difokuskan pada pendalaman teknik reposisi cedera. “Kalau belum ketemu yang khasnya sedikit geseran itu yang akan sulit. Ini yang harus dicari,” katanya.
Ia menilai peserta telah memiliki pengalaman, namun pelatihan ini untuk meningkatkan ketepatan dan kepercayaan diri dalam penanganan. “Teknik yang lebih dalam dan mereka paham tentu nanti itu bisa lebih gampang tidak ada ragu-ragu. Kita berharap mereka professional yang luar biasa tanpa ragu-ragu dalam melakukan tindakan,” tutupnya.

