Mataram (Inside Lombok) – Banjir yang melanda Kabupaten Lombok Timur (Lotim) pada pekan ini menyebabkan jembatan penghubung antara Desa Jeringo dan Desa Perigi terputus. Pemerintah daerah diminta segera melakukan perbaikan darurat karena kerusakan tersebut memutus akses utama warga dan menghambat sejumlah program layanan publik. BPBD NTB memperkirakan total kerugian akibat banjir mencapai sekitar Rp15 miliar.
Kepala Pelaksana BPBD NTB, Ahmadi, mengatakan kerugian dihitung berdasarkan perkiraan kerusakan yang dialami masyarakat. “Mungkinkan ada punya mobil, punya dapur, terendam,” katanya, Kamis (20/11).
Ia menambahkan bahwa kerugian per keluarga diperkirakan mencapai Rp3 juta. Jembatan yang putus memiliki kedalaman sekitar 15 meter dan panjang 20 meter sehingga warga dua desa harus menempuh jalur lebih jauh.
Ahmadi meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lotim segera menyiapkan perbaikan darurat agar akses masyarakat kembali normal. Ia menyebut pemutusan jembatan turut menghambat distribusi program pusat, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) ke sejumlah sekolah.
“Beberapa program yang turut tersendat, seperti program pusat Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak bisa disalurkan ke sejumlah sekolah karena putusnya jembatan,” katanya.
Selain Lotim, banjir juga terjadi di beberapa wilayah NTB sejak awal November 2025, yakni Lombok Tengah, Kabupaten Bima, Dompu, dan Kota Mataram. Deretan kejadian tersebut membuat NTB menetapkan status siaga bencana sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana lanjutan.
BMKG mengimbau masyarakat NTB mewaspadai curah hujan tinggi pada awal Desember 2025 hingga Februari 2026. Prakirawan Ahli Muda BMKG Zainudin Abdul Madjid, Dhian Yulie Cahyono, menyampaikan puncak musim hujan akan berlangsung merata di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. “Puncaknya perlu diwaspadai, puncak hujan akan terjadi di bulan Desember, Januari, Februari,” ujarnya.

