26.5 C
Mataram
Jumat, 13 Februari 2026
BerandaMataramLangkah Lombok Ethno Fusion Menuju Panggung Dunia melalui "Gugur Mayang"

Langkah Lombok Ethno Fusion Menuju Panggung Dunia melalui “Gugur Mayang”

Mataram (Inside Lombok) – Lagu Gugur Mayang selama bertahun-tahun hidup sebagai tembang daerah yang kerap dipentaskan ulang dalam format dangdut. Ia populer, tetapi sering diperlakukan sebagai sekadar hiburan. Padahal, bagi masyarakat Sasak, liriknya menyimpan pesan moral dan petuah hidup yang diwariskan turun-temurun. Nilai itulah yang ingin dipertahankan sekaligus diperluas jangkauannya oleh kelompok musik Lombok Ethno Fusion (LEF).

Gitaris LEF, Chandra Irawan melihat bahwa Gugur Mayang sebagai lagu yang terlalu berharga jika hanya berputar di panggung lokal. Bersama kelompoknya, ia memilih mengaransemen ulang dengan pendekatan jazz fusion. Menurutnya, jazz memiliki daya jelajah global. Dan di banyak negara, festival dan komunitas jazz tumbuh kuat, serta bahasa musikalnya dianggap lebih mudah diterima para subjek global.

Namun perubahan itu tidak menyentuh fondasi utama lagu. Notasi, melodi vokal, dan lirik tetap dipertahankan. Yang dikembangkan adalah harmoni, yaitu permainan akor, tekstur instrumen, serta ruang improvisasi.

“Ini adalah upaya memberi “warna baru” tanpa mencabut akar. Tradisi tetap menjadi pusat, sementara jazz menjadi jembatan,” kata Chandra, Jumat (13/02) siang kepada Inside Lombok.

Dari sekian banyak lagu Sasak, LEF justru memilih Gugur Mayang karena belum terlalu dikenal luas dan tidak jelas siapa pencipta aslinya. Anonimitas itu, bagi Chandra, membuatnya terasa sebagai milik kolektif. Gugur Mayang adalah warisan bersama, bukan karya individual. Menghidupkannya kembali berarti merawat ingatan budaya, bukan sekadar memproduksi lagu baru.

Di ranah internasional, perpaduan tradisi dan jazz kerap disebut world music. LEF sadar betul sedang bergerak di wilayah itu. Musik dijadikan medium diplomasi kebudayaan, cara memperkenalkan lebih dari sekadar lanskap wisata. “Bagi saya, publik global mencari sesuatu yang berbeda, yang lain, yang segar, yang tak mereka temukan di negaranya sendiri,” ujar Chandra.

Kesempatan tampil di luar negeri sempat terbuka untuk LEF pada 2025, ketika undangan festival jazz di Bulgaria dan Rumania datang–setelah beberapa tahun belakangan sempat tampil di Moscow Jazz Festival. Rencana itu batal karena persoalan visa. Meski demikian, Chandra menilai kegagalan tersebut hanya soal teknis. Target panggung global tetap menjadi arah jangka panjang mereka.

Selanjutnya, eksperimen musikal LEF dalam Gugur Mayang itu merembet ke sisi visual. Dalam video klip Gugur Mayang, mereka mengusung konsep silang budaya: jas dan dasi bergaya musisi jazz klasik era 1950–1960-an dipadukan dengan sapuq, ikat kepala khas Sasak. Tradisi dan modernitas ditempatkan berdampingan, bukan dipertentangkan.

Sementara itu, vokalis sekaligus pemain kibor, Tannya Efritzka, mengaku langsung bersemangat saat pertama kali terlibat dalam proyek ini. Baginya, Gugur Mayang terasa paling berbeda dibanding rilisan mereka sebelumnya. “Nuansa jazz dengan sentuhan beat afro-cuban memberi tantangan sekaligus ruang eksplorasi baru,” sebut Tannya.

Tannya juga terlibat dalam perbincangan soal busana dan citra. Keputusan mengenakan setelan modern sempat memunculkan kekhawatiran akan reaksi publik yang sudah melekatkan LEF dengan tradisi. Namun Tannya melihatnya sebagai proses edukasi: bahwa tradisi dan modern bisa berjalan beriringan, selama esensi lagu berupa melodi, lirik, dan ruhnya tetap dijaga.

Strategi kerja LEF pun mengikuti logika zaman digital. Alih-alih merilis album penuh, LEF memilih melepas single secara berkala, disertai puluhan konten media sosial untuk menjaga eksposur. Album dianggap memakan waktu dan berisiko menciptakan jeda panjang. Mereka kini lebih fokus pada sirkulasi konten dan panggung off-air.

Pada akhirnya, Gugur Mayang versi LEF bukan sekadar aransemen ulang. Ia menjadi pernyataan sikap: bahwa musik daerah tidak harus tinggal di masa lalu. Ia bisa bergerak, bernegosiasi, dan menemukan pendengar baru tanpa kehilangan asal-usulnya. Dari Lombok, sebuah lagu lama mencoba berbicara dalam bahasa dunia. (gil)

- Advertisement -

Berita Populer