Mataram (Inside Lombok) – Ketika isu royalti musik kerap menjadi batu sandungan bagi musisi, Lombok Ethno Fusion justru menawarkan perspektif berbeda, yaitu membebaskan hotel dan restoran memutar lagu mereka tanpa pungutan. Bagi grup ini, karya bukan hanya soal hitungan rupiah, melainkan jembatan untuk memperkenalkan identitas budaya Lombok kepada wisatawan internasional.
Langkah yang bagi sebagian orang tampak kontroversial, tapi sebenarnya bisa dibaca sebagai strategi berani untuk membuka pintu panggung global. Gitaris Lombok Ethno Fusion, Chandra Irawan, mengakui bahwa pendapatan royalti dari platform digital masih sangat kecil. Karena itu, kelompok musiknya lebih memilih mengandalkan penampilan langsung dengan sistem pembayaran yang jelas.
Menurut Chandra, misi utama Lombok Ethno Fusion bukan semata keuntungan finansial, melainkan memperkenalkan dan memajukan kebudayaan suku Sasak. Atas dasar itu, pihaknya mempersilakan hotel maupun restoran memutar lagu-lagu mereka tanpa harus membayar royalti. “Target kami jelas, lebih banyak tampil di luar negeri dan karya kami didengar wisatawan internasional. Dengan diputarnya lagu kami di hotel dan restoran, peluang itu akan semakin terbuka,” kata Chandra kepada Inside Lombok, Selasa, (19/8).
Meski demikian, Chandra menegaskan bahwa pada prinsipnya ia mendukung pemungutan royalti atas pemutaran lagu di ranah komersial. Hanya saja, ia menilai sistem pemungutan yang dijalankan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) perlu diperbaiki. “Pemungutan itu sah dan adil, tapi harus transparan. Jangan sampai hanya membebani pengusaha hotel dan restoran, sementara musisi tidak menerima hak yang seharusnya,” ujarnya.
Chandra juga menyinggung kekhawatiran bahwa kebijakan royalti bisa membuat pengusaha lebih memilih lagu bebas royalti. Namun, ia melihat sisi positif dari kondisi ini. Menurutnya, peluang musisi independen akan semakin besar, karena karya mereka bisa diputar lebih luas tanpa terikat sistem royalti yang masih belum jelas. “Artinya, musisi independen terpacu untuk merilis karya secara mandiri. Pada akhirnya, baik musisi maupun pemilik usaha sama-sama diuntungkan,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa kebijakan royalti sejauh ini tidak berimbas besar pada Lombok Ethno Fusion, sebab kelompok musik ini lebih fokus pada pentas langsung. Apalagi sebagai musisi daerah, mereka tidak mendapat sorotan sebesar musisi dari pusat. “Kami justru berterima kasih bila hotel-hotel mau memutar lagu kami. Itu akan membantu memperluas jangkauan ke turis internasional yang berkunjung ke Lombok,” imbuhnya.
Kendati demikian, Chandra menyoroti perlunya etika dalam penggunaan karya. Ia mengaku pernah kecewa saat sebuah acara besar memutar lagu Sesenggak Sasak milik Lombok Ethno Fusion, namun salah mencantumkan kredit. “Kami membebaskan lagu untuk dipakai, tapi jangan sampai salah menyebut pencipta. Kami sudah susah payah berkarya, jangan sampai yang mendapat kredit orang lain. Mari sama-sama membangun musik Lombok dengan cara sportif dan tidak saling merugikan,” tandasnya. (gil)

