Mataram (Inside Lombok)- Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) terus mematangkan langkah untuk mentransformasi Gunung Rinjani menjadi destinasi pendakian kelas dunia. Tidak sekadar mengejar reputasi global, pengembangan ini difokuskan pada penguatan konservasi, keselamatan pengunjung, hingga dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.
Kepala Balai TNGR, Budhy Kurniawan, menegaskan bahwa saat ini seluruh program pengembangan berada pada jalur yang tepat (on the track). Predikat pendaki kelas dunia bagi Rinjani diterjemahkan sebagai penerapan praktik terbaik (best practice) dalam pengelolaan kawasan.
“Pendakian kelas dunia versi Rinjani adalah bagaimana kita mengedepankan konservasi lingkungan, menjamin keselamatan pendaki, dan memastikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal tetap terjaga. Inilah yang terus kita upgrade,” ujarnya, Senin (12/1).
Salah satu terobosan besar yang tengah digarap tahun ini adalah pemanfaatan teknologi untuk menutup celah keterbatasan jumlah personel di lapangan. Budhy mengungkapkan, TNGR akan menambah pemasangan kamera pengawas (CCTV) di titik-titik strategis sepanjang jalur pendakian.
“Tahun ini kita rencanakan penambahan sekitar 8 titik CCTV baru, melengkapi 7 titik yang sudah terpasang sebelumnya. Targetnya, seluruh 6 jalur pendakian resmi akan dilengkapi CCTV secara bertahap,” terangnya.
Lebih lanjut, seluruh kamera ini nantinya akan terintegrasi dengan command center di Kantor Balai TNGR yang berfungsi sebagai pusat episentrum monitoring. Dengan teknologi ini, petugas dapat memantau aktivitas pendakian secara real-time. Selain itu, dengan adanya CCTV akan mempermudah deteksi dini jika terjadi kecelakaan maupun pelanggaran Standard Operating Procedure (SOP).
“Adanya CCTV memudahkan kita mendeteksi awal jika ada kejadian, seperti kecelakaan atau pengunjung yang membuang sampah sembarangan. Bahkan, porter kita sendiri pun terpantau, karena SOP ini melekat pada siapa saja yang berada di kawasan,” jelasnya.
TNGR juga menitikberatkan pada pembangunan manusia. Kapasitas SDM mitra, mulai dari masyarakat sekitar, guide, hingga porter, terus ditingkatkan agar sejalan dengan visi pelayanan profesional dan adaptif. Pembenahan infrastruktur fisik di jalur pendakian juga tetap menjadi prioritas tahun ini guna memberikan kepastian keamanan dan kenyamanan bagi para petualang yang datang dari berbagai belahan dunia.
“Dengan kombinasi teknologi mutakhir dan manajemen yang ketat, Gunung Rinjani bersiap membuktikan bahwa kelestarian alam dan pariwisata masif bisa berjalan beriringan dalam standar global,” pungkasnya.

