Mataram (Inside Lombok) — Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi NTB menekankan pentingnya perlindungan dan pengembangan varietas kakao lokal asal Genggelang yang kini mulai menarik perhatian investor. Hal tersebut disampaikan Kepala BRIDA NTB, I Gede Putu Aryadi, dalam kegiatan penyerahan piagam penghargaan bagi petani inovatif di Desa Genggelang, Kabupaten Lombok Utara.
Gede menyampaikan bahwa berbagai inovasi pertanian, termasuk di sektor kakao, sering lahir dari para petani di lapangan. Karena itu, pemerintah daerah bersama BRIN serta Kementerian Pertanian tengah mengupayakan pendaftaran varietas kakao lokal agar mendapatkan sertifikasi varietas unggul dan perlindungan hukum.
Ia menegaskan bahwa sertifikasi tersebut akan meningkatkan nilai ekonomi serta membuka peluang berkembangnya industri turunan kakao langsung di daerah produsen. “Perlu publikasi dan promosi agar inovasi petani di Genggelang mendapat perhatian lebih luas, sekaligus memastikan agar lahan pertanian tetap terjaga kepemilikannya oleh masyarakat,” kata Gede, (14/11).
Pada kegiatan yang sama, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara memberikan penghargaan kepada empat petani inovatif yang berperan penting dalam pengembangan kakao lokal. Mereka adalah Alwi dengan teknik penyerbukan buatan yang meningkatkan panen hingga 1,5 ton per bulan; Jabat yang menemukan tiga varietas kakao unggul, yakni Ijo Kajuman, Beneng Jokot, dan Mama Murmas; Dedi yang menciptakan klon “Inderti DM01” tahan hama tanpa pestisida; serta Iswayuhdi yang merancang teknologi Ventilasi Pipa Air Mini dan Alat Kontrol Irigasi Otomatis (AKIO) bagi lahan kritis.
Wakil Bupati Lombok Utara, Kusmalahadi Syamsuri, menyampaikan bahwa daerahnya memiliki potensi pengembangan kakao yang besar dengan luas lahan sekitar 5.000 hektare. Menurutnya, inovasi para petani akan menjadi penggerak dalam menjadikan wilayah tersebut sebagai sentra kakao di Nusa Tenggara Barat.
Sebagai tindak lanjut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Lombok Utara, Tresnhadi, memastikan bahwa varietas kakao baru dari Genggelang akan diusulkan ke Kementerian Pertanian pada 2026. Proposal pendaftarannya telah disusun bersama HKTI dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp175 juta.
Upaya ini diharapkan mampu memperkuat perlindungan inovasi petani serta mendorong pengembangan kakao lokal secara berkelanjutan. (gil)

