Mataram (Inside Lombok) – Nutsafir Cookies, produk kue kering asal Lombok, mencatatkan peningkatan penjualan hingga 20 persen dibandingkan sebelum bergabung dengan platform e-commerce, serta kenaikan hingga ratusan persen setiap tahunnya melalui Shopee. Produk ini juga telah bergabung dalam Program Ekspor Shopee dan Program Ekspor Shopee FLEXI sebagai bagian dari ekspansi pasar internasional.
Usaha rumahan tersebut didirikan oleh Sayuk Wibawati di Mataram sejak September 2012. Usahanya berfokus pada pengolahan biji-bijian lokal Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi camilan siap makan. Bahan baku yang digunakan antara lain kacang merah, jagung, mete, kedelai, serta biji lebui atau kacang hitam khas Lombok yang selama ini lebih dikenal sebagai bahan sayuran.
Nutsafir Cookies mengusung konsep camilan sehat dengan proses produksi higienis tanpa menggunakan bahan pengawet, pewarna buatan, maupun pemanis buatan. Konsep tersebut menjadikan produk ini diminati konsumen yang memperhatikan aspek kesehatan dalam memilih makanan.
Dari sisi kualitas, Nutsafir Cookies telah memperoleh sejumlah penghargaan, di antaranya predikat UKM Halal Terbaik se-Indonesia pada Halal Award 2017 serta Sertifikat Keamanan Pangan Bintang Satu dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Pengakuan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga standar produk di pasar nasional dan internasional.
Melalui konsistensi kualitas serta dukungan pemerintah daerah dan kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk BUMN, Nutsafir Cookies kini tidak hanya menjadi oleh-oleh khas Lombok, tetapi juga telah diekspor dan dikenal oleh masyarakat internasional serta diaspora Indonesia di luar negeri.
“Sekarang ini situasi dunia bisnis sedang mengalami penurunan, ndak seperti dulu. Sekarang banyak kompetitor. Jadi harus kuat mental, banyak berinovasi, banyak belajar dari pengalaman,” ujar Sayuk.
Selain aspek bisnis, Nutsafir Cookies juga memiliki dampak sosial dengan memberdayakan kelompok perempuan lokal dalam proses produksinya. Upaya tersebut turut memperkuat peran UMKM dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan pengembangan produk pangan berbasis potensi lokal.
“Sampai detik ini pun, Nutsafir Cookies masih tetap belajar, misalnya kalau ada pelatihan, kami tetap ikut, baik itu komunitas nasional maupun lokal,” pungkas Sayuk.

