Mataram (Inside Lombok)- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB terus gencar melakukan edukasi dan literasi keuangan kepada masyarakat, terutama mereka yang berada di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Pasalnya, di wilayah tersebut masih terbilang minim untuk edukasi ini. “Kami punya program kerja tahunan, di awal tahun sudah kami tentukan, kami akan ke mana saja dan siapa saja sasarannya,” ujar Deputi Direktur OJK NTB, Dhita Listya Mardianing, Rabu (21/8).
Menurutnya, tahun ini seluruh kabupaten dan kota di NTB menjadi target OJK. Sektor prioritas yang menjadi sasaran edukasi antara lain Pekerja Migran Indonesia (PMI), mahasiswa, hingga masyarakat umum. Bahkan OJK tidak menargetkan jumlah peserta secara spesifik, melainkan fokus pada jangkauan wilayah. Edukasi ini bertujuan untuk membekali masyarakat dengan pemahaman dasar tentang pengelolaan keuangan, perlindungan data pribadi, dan pengenalan produk keuangan yang aman. “Banyak dari mereka, terutama di daerah 3T, tidak memahami produk-produk keuangan. Makanya kami ajak industri terkait untuk edukasi produk mereka, supaya masyarakat tahu cara memilih yang tepat,” jelasnya.
Ia menambahkan, kurangnya literasi keuangan ini menjadi alasan utama banyaknya masyarakat yang terjerat pinjaman online (pinjol) ilegal, judi online, hingga bank subuh atau rentenir. Hal ini juga tercermin dari banyaknya pengaduan yang masuk ke OJK terkait masalah pinjaman. “Jadi kita masuk kesitu dulu edukasinya dari pemahaman sampai pengelola, karena banyak pengaduan di OJK terkait dengan hal itu (pinjol maupun judol,red)” terangnya.
Hingga saat ini, OJK NTB telah menjangkau ribuan orang dalam setiap sesi edukasi yang diikuti sekitar 100 peserta. Dengan pendekatan yang lebih masif, OJK berharap bisa mengikis buta finansial di tengah masyarakat, sehingga mereka lebih terlindungi dan bisa memanfaatkan layanan keuangan dengan bijak. “Sebelum minim edukasi ke daerah 3T, kita tidak targetkan berapa banyak orangnya, kalau tidak salah sekarang sudah ribuan orang,” demikian. (dpi)

